Diajak Ngobrol Buya Syafii, Suliyono Ungkap Alasan Serang Gereja Lidwina, Mengerikan!

Buya Syafii saat mengajak berdialog Suliyono, pelaku penyerangan Gereja Lidwina. Foto via @Alim
Buya Syafii saat mengajak berdialog Suliyono, pelaku penyerangan Gereja Lidwina. Foto via @Alim

POJOKSATU.id – Motif penyerangan Gereja Lidwina Bedog, Sleman, Yogyakarta, Minggu (11/2/2018) kemarin masih menjadi tandatanya banyak pihak.

Banyak yang menilai, aksi tersebut adalah teror yang berkaitan dengan paham radikalisme.

Sebagian yang lain mengasumsikan Suliyono yang warga Banyuwangi itu mengidap gangguan jiwa alias gila.

Sementara yang lain, menyebut aksi tersebut bisa jadi hanya kriminal biasa.


Namun, pemilik akun Alim ini membeberkan rahasia Suliyono saat diajak berdialog dengan Buya Sfafii.

Terungkap, Penyerang Gereja Lidwina Suliyono Pernah di Poso dan akan ke Suriah!

Dalam unggahannya itu, dibaginya dalam empat bagian yang berbeda yang diunggahnya dalam jarak waktu yang tak berjauhan.

Namun, poin utama momen dialog Suliyono dan Buya Syafii itu ada di bagian ke-2.

Pengungkapan itu sendiri diberinya judul ‘Bacok #2’.

Dalam pembeberan panjangnya, Alim menjelaskan bahwa informasi ia dapatkan langsung dari anggota Dewan Unit Kerja Presiden bidang Pemantapan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) itu.

9 Fakta Sosok Suliono, Penyerang Jemaat Gereja St Lidwina

Saat itu, sang pemilik akun bertemu degan Buya usai menunaikan shalat Maghrib di Masjid Nogotirto yang terletak di depan rumahnya.

Sang akun menyebut, di hari kejadian, Buya saat itu bersama seorang tetangganya, Pak Salam makan di sebuah warung sebeluh utara Pasar Jambon, usai berbelanja di tukang sayur.

Warung itu sendiri ada di sebelah timur sekitar 300 meter dari Gereja Lidwina.

Selesai makan, Buya dapat cerita dari pemilik warung bahwa telah terjadi pembacokan di Gereja St. Lidwina tersebut yang langsung membawa Buya menuju lokasi.

Usai Ulama dan Ustadz, Gereja dan Pendeta Diserang: Fenomena Orang Gila atau Adu Domba?

Berikut penuturan lengkap rahasia Suliyono saat diajak berdialog dengan Buya Syafii seperti yang diunggah Alim dengan judul Bacok #2:

Pelaku

Seperti niat saya, saya akan nulis soal pembacokan di Gereja St. Lidwina setelah duduk tenang. Nah, sekarang sudah duduk agak tenang, selepas maghriban di Masjid Nogotirto depan rumah.

Kebetulan di masjid ketemu Buya seperti biasa. Tak saya sia-siakan, saya langsung wawancara.

Pagi tadi, setelah belanja di tukang sayur depan rumah saya, Buya ajak Pak Salam, tetangga sebelah, untuk makan di warung Bu Darmi sebelah utara Pasar Jambon.

Gereja Lidwina Diserang, Ketua DPR Ungkap Ada Ancaman Besar

Nah Gereja Bedog St. Lidwina itu hanya 300 meter sebelah timur pasar.

Selesai makan, Buya dapat cerita dari pemilik warung bahwa telah terjadi pembacokan di Gereja St. Lidwina tersebut. Buya langsung menuju ke sana. Jadi semacam tidak sengaja sedang berada di dekat situ.

Sampai di situ, sudah ramai orang, darah bercecer di mana-mana. Pelaku telah diamankan, korban telah dilarikan ke rumah sakit. Menurut pengamatan Buya, beberapa kepala patung di dalam gereja terpenggal kepalanya.

Siang tadi, setelah dari Gereja itu, Buya menjenguk pelaku di RS. Bhayangkara (dalam foto). Setengah jam lebih Buya berdialog. Head to head.

Gereja Lidwina Diserang, GP Ansor: Ada Motif Agama dan Politik!

Beberapa hal yang bisa saya ceritakan ulang di sini antara lain bahwa pelaku masih sangat muda, 23 tahun, kelahiran 16 Maret 1995.

Pernah kuliah 2 semester dan mondok 3 tahunan di Jawa Tengah. Ia baru tinggal di area situ 5 harian. Pedang ia dapatkan dengan menjual Hpnya kemarin.

Motifnya? Ia mengaku benci orang kafir. Dipenggalnya patung-patung itu agar tidak disembah.

Ketika ditanya apakah ada kyai atau gurunya yang mengajarkan itu ia menampik. Ia suka baca2 buku sendiri.

Penyerang Gereja Lidwina: Masa Orang Gila Semua? Aneh!

Luka tembak ia dapatkan di kaki, bukan di perut seperti diberitakan di situs berita dan medsos tadi siang.

Itu tadi datanya. Sekarang soal kesan. Kesan Buya terhadap orang itu; ia bisa diajak berbicara dengan baik, bicaranya nyambung.

Meski demikian, agak kontradiktif antara dia berencana pulang ke rumah orang tuanya hari selasa besok tapi siap mati di Gereja itu hari ini.

Secara umum, dia tampak waras. Oya, kesan ini saya dapatkan dengan bertanya kepada Buya satu persatu, bukan Buya yang menyampaikan seperti urutan cerita saya ini.

Gereja Lidwina Diserang, Sultan Hamengkubuwono X Murka

Kesannya, ia pemain tunggal. Tapi selanjutnya, kata Buya, sedang diselidiki polisi. Penyelidikan harus profesional, hukum harus ditegakkan.

Apakah pelaku orang gila?

Bagi saya, semua pelaku tindakan brutal semacam itu adalah orang gila. Benar-benar tidak waras.

Namun gila bukan dalam definisi klinis, misalnya skizofrenia atau panyakit sejenis.

Kesaksian Jemaat Gereja Lidwina, Pecahnya Hening Akibat ‘Allahu Akbar’

Soal diagnosis klinis ‘gila’ mari kita serahkan pada psikiater. Apalagi, diagnosis semacam ini amat terkait dengan proses hukum.

So, serahkan pada ahlinya dan yang berwenang.

Bersambung…

Download aplikasi PojokSatu.id dapat hadiah menarik setiap hari

(ruh/pojoksatu)