Soal La Nyalla Mattalitti Diminta Uang, Wakil Ketum Gerindra Bilang Wajar

Prabowo dan Wakil Ketua Umum Gerindra Arif Poyuono. Foto ist
Prabowo dan Wakil Ketua Umum Gerindra Arief Poyuono. Foto ist

POJOKSATU.id, JAKARTA – Gagalnya La Nyalla Mattalitti maju sebagai calon gubernur yang diusung Gerindra di Pilgub Jatim 2018, menyeret nama Prabowo Subianto.

La Nyalla kemudian membongkar adanya praktik mahar politik Partai Gerindra agar bisa mendapatkan rekomendasi.

Mantan Ketua PSSI itu mengungkap dirinya dimintai uang Rp40 miliar oleh Prabowo saat bertemu saat deklarasi pasangan Mayjen (Purn) Sudrajat-Ahmad Syaikhu di Pilgub Jawa Barat.

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Umum Gerindra Arief Poyuono membantah keras Prabowo memminta Rp40 miliar kepada La Nyalla.


Bahkan, ia membeberkan tak ada permintaan uang dalam surat tugas Partai Gerindra untuk Ketua Kadin Jawa Timur tersebut untuk maju pada Pilkada 2018.

Gagal Nyalon di Pilgub Jatim, La Nyalla Bongkar Borok Prabowo: Minta 170 Miliar

Dijelaskannya, surat mandat untuk La Nyalla dari Ketum Gerindra Prabowo Subianto dengan nomor 12-0036/B/DPP-GERINDRA/Pilkada/2017 itu berisi perintah agar La Nyalla mencari partai koalisi sebelum 20 Desember 2017.

Arief menjelaskan dari awal Gerindra menyatakan mengusung La Nyalla sebagai bakal cagub Gerindra di Jatim.

La Nyalla sebagai kader Gerindra diijinkan untuk memasang fotonya bersama Prabowo di setiap pelosok Jatim.

“Namun hingga surat tugas itu berakhir, mas La Nyalla tidak berhasil mendapatkan partai koalisi (PAN),” sebutnya Kamis (11/1/2018).

Padahal, setahu Arief, Amin Rais telah mengusulkan La Nyalla juga.

Akan tetapi, Ketum PAN menolak mengusung La Nyalla dengan alasan DPW PAN Jatim menolaknya.

“Jadi jelas kan, dukungan Amien Rais pada La Nyalla enggak dianggap oleh Ketum PAN dan DPW PAN Jatim,” beber Arief.

Mengenai uang Rp40 miliar yang disebut La Nyalla diminta oleh Prabowo Subianto untuk membayar saksi di TPS saat pencoblosan, menurut Arief sangatlah wajar.

La Nyalla: Saya Bego Kalau Masih Dukung Prabowo Subianto

Dikatakan dia, sebab pertama kemenangan cakada dalam Pilgub kuncinya adalah kekuatan para saksi di TPS-TPS.

Dalam hematnya, jumlah TPS Pilgub Jatim yang tersebar di 38 kabupaten/kota total 68511 TPS dibutuhkan minimal 3 saksi untuk mengawal satu TPS.

Andai uang makan saksi sebesar Rp200 ribu per orang, maka dibutuhkan 41 miliar.

Justru, kata Arief, angka yang diminta kepada La Nyalla, kalau benar ada, maka angkanya masih kurang.

“Belum lagi saksi-saksi di tingkat PPS, PPK dan KPUD. Belum lagi untuk dana pelatihan saksi sebelum pencoblosan yaitu sebesar 100 ribu perorang/hari dan butuh 3 hari,” sambungnya.

Artinya, lanjut Arief, masih dibutuhkan dana sebesar Rp20,5 miliar hingga total menjadi total Rp61,5 miliar.

“Kekurangan dana nantinya yang menanggung ya kader Partai Gerindra. Seperti pada Pilgub DKI Jakarta seluruh kader Gerindra di Indonesia urunan untuk bantu Anies-Sandi,” ungkap Arief.

Terkait keputusan La Nyalla keluar dari Gerindra, Arief yang sudah menganggap La Nyalla seperti kakak, meminta untuk berpikir ulang.

Arief berharap dinamikan jelang Pilgub di Jatim tidak membuat La Nyalla hengkang.

“Mohon agar jangan keluar dari Gerindra dan tetap berjuang bersama di Gerindra karena Pilgub Jatim bukan segalanya untuk bisa membawa Indonesia menuju Indonesia yang maju. Kita punya tujuan yang lebih besar untuk bangsa dan negara,” demikian Arief.

Download aplikasi PojokSatu.id dapat pulsa, voucher dan hadiah menarik lainnya

(dem/rmol/ruh/pojoksatu)