Sindiran Menohok Politikus PDIP: Wahai Anies Baswedan, Tirulah Jokowi

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menerima petikan surat keputusan pelantikannya dari Presiden Joko Widodo di Istana Presiden
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menerima petikan surat keputusan pelantikannya dari Presiden Joko Widodo di Istana Presiden

POJOKSATU.id, JAKARTA – Politikus PDIP Maurar Sirait akhirnya angkat bicara perihal pidato Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang menuai polemik karena menggunakan diksi ‘pribumi’.

Anggota DPR RI dari Fraksi PDIP itupun menyindir Anies dan menyarankan agar meniru Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Ia juga mengingatkan, sebagai pemimpin sejati haruslah bisa menjaga kesejukan dan persatuan bangsa.

Kata Ara, sapaan Maruarar, bangsa Indonesia sudah sepakat dengan Pancasila dan UUD 1945, yang di dalamnya mengakui keberagaman dan menunjuk persatuan.


Karena itu, para pemimpin Indonesia di semua level, baik pusat maupun daerah, harus berpegang teguh pada Pancasila dan UUD 1945 dan mengakui keberagaman itu.

Anies Baswedan Tiba-tiba Dipanggil Presiden Jokowi, Ada Apa?

Belum Apa-apa, Anies Baswedan Sudah Konflik dengan DPRD DKI Jakarta

“Tentunya, semua level pemimpinan di Indonesia, baik pernyataannya maupun sikapnya, harus membawa ke persatuan dan menjaga kesejukan. Seperti Pak Jokowi lah,” ucap anggota Komisi XI DPR ini.

Menurut Ara, Indonesia sangat membutuhkan kesatuan dan persatuan demi membangun ekonomi rakyat yang baik.

Anies-Sandiaga Diperingatkan Mendagri: Jangan Seenaknya!

Pidato Anies Baswedan, Mendagri Tjahjo Kumolo Siapkan Sanksi?

Dengan kesatuan dan persatuan itu, Indonesia bisa lebih produktif dan bisa bersaing di kancah internasional.

Khusus untuk Anies Baswedan dan Sadiaga Uno, Ara menyampaikan ucapan selamat bekerja.

Setelah Dilaporkan ke Bareskrim Polri, Anies Baswedan Susul Ahok?

Pidato Pribumi Anies Bisa Saja karena Menko Kemaritiman Luhut Pandjaitan

Dia pun berpesan agar Anies dan Sandi mampu merangkul semua kalangan, tanpa membedakan mana yang mendukung dan mana yang tidak saat Pilkada lalu.

“Pemimpin itu harus ada di tengah, harus moderat. Pemimpin tidak boleh ekstrim. Pemimpin harus memberikan rasa aman dan nyaman. Baru disebut pemimpin semua. Jadi, dia bukan pemimpin satu kelompok saja,” saran Ketua Umum Taruna Merah Putih ini.