Jimly Asshiddiqie: Anies Baswedan Gak Usah Pidato, Kerja Saja yang Bener

Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), Jimly Asshiddiqie angkat bicara.
Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), Jimly Asshiddiqie

POJOKSATU.id, JAKARTA – Pidato Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan masih terus menuai tanggapan. Kali ini Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), Jimly Asshiddiqie angkat bicara.

Jimly mengakui, penggunaan diksi ‘pribumi’ memang sudah tak lagi diakui sejak refomasi bergulir.

Karena itu, setiap kebijakan negara tak boleh lagi bersifat diskriminatif terhadap ras tertentu atau pun SARA.

Hal itu ia sampaikan dalam konferensi pers di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (18/10).


Resmi! Anies Baswedan Dilaporkan ke Bareskrim Polri, Ini Buktinya

Anies Baswedan Dipolisikan, Sandiaga Uno Diperiksa Polda Metro Jaya

“Kecuali kalau untuk orang yang tertinggal itu supaya lebih cepat perkembangannya. Itu butuh spesial treatment. Harus ada perlakuan khusus, misalnya kuota khusus untuk perempuan di politik, kuota khusus untuk orang miskin, itu ada dalam pasal 28 h UUD 45,” ungkapnya.

Kendati demikian, Jimly menilai pidato politik Anies dengan memakai istilah ‘pribumi’ dinilainya masih merupakan hal yang wajar.

Banteng Muda Indonesia yang Laporkan Anies Baswedan Dapat Ancaman

Relawan Anies Baswedan kepada Relawan Ahok-Djarot: Cerdas Dikit dong

“Jadi dimuat dalam pidato politik ya boleh-boleh aja, tapi dalam kebijakan resmi itu tidak boleh lagi. Di undang-undang nggak boleh lagi,” ujarnya.

Istilah ‘pribumi’ menurutnya biasanya dipakai orang politik untuk menyatakan bahwa dia ingin memanusiakan manusia.

Karena memang, lanjut Jimly, dalam konteks masyarakat Indonesia masih ada ketimpangan.