Pesta Seks Gay Juga Pernah di Madiun dan Jogjakarta

Andrias saat diperiksa di Polrestabes Surabaya (Dida Tenola/Jawa Pos)

POJOKSATU.id – Sebelum digrebek polisi, Andrias mengaku pernah menggagas pesta serupa di kota lain. Sebelum Surabaya, pesta gay itu dia laksanakan di sebuah hotel di Madiun, maupun Jogjakarta. Namun pesertanya sedikit, tidak seperti di kota Pahlawan.

Di Surabaya sendiri, bukan kali pertama dia membuat acara itu. Dia pernah menjadikan sebuah hotel bintang 4 di kawasan Ngagel sebagai tempat pesta. Sasarannya, kota-kota besar karena biasanya lebih banyak peminat. “Pesertanya sekitar 15 orang kalau ramai,” akunya.

Lebih lanjut dia mengatakan, tidak ada kode khusus bagi orang yang ingin bergabung. Yang penting, mereka membayar di tempat. Murah saja, dia mematok Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu. Uang itu disebutnya sebagai pendaftaran yang nantinya dipakai membayar kamar hotel.

Meskipun harus mengeluarkan duit untuk patungan menyewa hotel, Andrias juga berbaik hati bagi gay yang berkantong cekak. Alias, tidak punya fulus sama sekali. Biasanya yang model seperti itu disebutnya sebagai gay yang cuma berorientasi pada seks.


“Kadang saya tombok (membayari, Red) kalau memang uang hotelnya kurang,” jelas Andrias.

Bagi Andrias, dia tidak mau ambil pusing soal itu. Sebab, peserta pesta gay lainnya juga memberi restu bagi yang tidak punya uang. Poin penting dalam pesta itu adalah, soal kecocokan. Itu sudah dia tegaskan di awal ajakan yang tersebar lewat broadcast BBM.

Rules-nya, tidak boleh ada yang memaksakan hubungan intim. Bagi siapapun yang cocok, dipersilakan untuk lanjut ke ranjang. Bagi yang tidak berkenan, tidak jadi masalah. Aturan lainnya, begitu ikut acara, harus mau menanggalkan pakaian.

Pria yang mengaku sarjana ekonomi itu menambakan, selama ini lebih memilih untuk menikmati pesta tanpa embel-embel seks. “Saya cuma senang bisa mengumpulkan yang lain. Orientasi saya cuma ngobrol-ngobrol, saling bercerita. Saat polisi datang, saya nggak ngapa-ngapain,” lanjutnya.

Meski mengaku tidak berorientasi seksual, Andrias mengemas pestanya dengan maksimal. Misalnya, menantang para peserta untuk menjadi Go Go Boy. Itu adalah istilah bagi para gay untuk menari telanjang. Aturannya sama seperti penari striptease pada umumnya, berani dan berminat bisa menari erotis.

Menanggalkan pakaiannya satu per satu hingga akhirnya benar-benar telanjang bulat.Para peserta yang berminat, dan penampilannya menghibur bakal mendapat hadiah. “Dari uang pendaftaran itu hadiahnya,” imbuhnya.

Namun, pada acara yang berujung penggerebekan polisi itu tidak ada Go Go Boy. Sebab, dari 14 orang yang ada di dalam kamar 314 itu hanya membangun chemistry lewat obrolan santai, menonton film gay, dan tentu saja, berhubungan badan.

Lebih dari dua kali menggelar persta gay, Andrias mengaku puas. Sebab, antusiasme warga sangat besar. Menurutnya, itu menunjukkan di Surabaya banyak pria homoseksual, maupun biseksual. Buktinya, dari acara yang sudah digelar, Andrias sering mendapati peserta baru.

Namun, dia tidak lagi bisa membuat pesta serupa karena terancam mendekam di penjara cukup lama. Andrias sendiri sempat menangis saat polisi merilis pesta gay tersebut pada Minggu (30/4) siang. “Saya malu saja sampai seperti ini,” sebutnya. (did/JPG)