Pedasnya Harga Cabai Karena Ulah Kartel, Polisi Periksa Tiga Pengusaha

Cabai
Ilustrasi

POJOKSATU.id, JAKARTA- Tingginya harga cabai yang berlangsung belakangan ini, ternyata akibat dari permainan para pengepul cabai di Indonesia. Mereka sengaja mempermainkan pasokan cabai di lapangan guna memperoleh keuntungan.

Direktorat Jendral (Dirjen) Hortikultura Kementrian Pertanian (Kementan), Spudnik Sujono menilai tingginya harga cabai rawit yang menembus harga hingga Rp120 ribu per kilogram disebabkan oleh ulah para pengepul besar. Hal itu disampaikannya usai meninjau kebun cabai di Desa Tawang Kecamatan Losari Kabupaten Cirebon, Rabu (8/3).

“Harusnya pengepul ini membeli dengan harga yang wajar. Kalau petani itu, cabainya dibeli dengan harga sekitar Rp40 ribu per kilo saja sudah senang kok,” katanya.

Sujono juga menjelaskan, akibat dari ulah pengepul tersebut kebutuhan produksi cabai untuk pasar menjadi berkurang. Karena, tak sedikit produksi cabai rawit yang diborong oleh perusahaan guna memenuhi kebutuhan industri.


Sudjono mengungkapkan pengaruh iklim tak banyak mempengaruhi harga cabai. Menurutnya, jika iklim menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi, maka sejumlah produksi pertanian lainnya seperti, cabai hijau, kriting, dan merah mengalami kenaikan.

“Ia iklim juga memang. Tapi, pertanyaannya kan seharusnya mengapa hanya cabai rawit? Itu seharusnya pertanyaannya,” tegasnya.

Bareskrim Polri tengah memeriksa tiga perusahaan pengguna cabai rawit merah, Rabu (8/3) hari ini. Pemeriksaan dilakukan guna mengembangkan kasus monopoli cabai rawit merah.
Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Brigjen Agung Setya mengatakan, tiga orang dari perusahaan berbeda mulai dimintai keterangan oleh penyidik.

“Sekarang ini kami sedang periksa dari industri, sedang dilakukan pemeriksaan. Ada tiga orang diperiksa,” kata Agung saat dihubungi.

Agung mengatakan, tiga orang tersebut merupakan pemilik atau direksi di perusahaan pengguna cabai rawit merah di wilayah Solo, Jawa Tengah. Ketiganya diperiksa langsung oleh penyidik di lokasi.
(jpnn/rmol/ pojoksatu)