Rachmawati Soekarnoputri Menangis, ‘Tuduhan Makar Sangat Berat’

Fadli Zon
Fadli Zon

POJOKSATU.id, JAKARTA – Putri Bung Karno, Rachmawati Soekarnoputri menangis saat curhat kepada Wakil Ketua DPR Fadli Zon mengenai tuduhan makar dari Kepolisian kepadanya.

Didampingi sejumlah aktivis, putri Bung Karno ini menemui Fadli Zon di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (10/1/2017). Rachmawati datang bersama tokoh-tokoh yang ditetapkan sebagai tersangka makar lainnya, di antaranya Kivlan Zein, Hatta Taliwang, Firza Husen, dan Ahnad Dhani.

Dua tersangka kasus makar lainnya, Ratna Sarumpaet dan Adhytia Warman tidak hadir dalam pertemuan tersebut.

“Kami yang hadir di sini beserta kawan-kawan ditangkap dengan surat penangkapan yang dibuat oleh Kombes PMJ (Polda Metro Jaya) dengan tuduhan pasal makar atau pemufakatan jahat. Tuduhannya yang sangat berat itu ironisnya didasarkan laporan Aiptu Kusmayadi,” sebut Rachmawati.


Rachmawati lantas menarik nafas dan kemudian melanjutkan curhatnya. Ketika berbicara mengenai tuduhan makar kepadanya, Rachmawati dengan tegas mengatakan tidak menerima tuduhan itu.

Menurut intuisinya, tuduhan makar itu by design. Sebab dalam menyikapi demo pada 411 muncul stigmatisasi kalau gerakan itu disusupi kelompok Suriah dan ISIS.

Kepada Fadli Zon, Rachmawati mengatakan kalau dia hadir dalam aksi itu bersama tokoh lainnya, di antaranya Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah.

Rachmawati melanjutkan, pihaknya kemudian merancang aksi ke MPR pada 212. Aksi itu awalnya akan melibatnan massa sekitar 20 ribu massa dengan agenda utama kembali ke UUD 1945 asli. Rachmawati sempat menghubungi Ketua MPR Zulkifli Hasan dan meminta agar mau menemui massa.

“Kami mau ke MPR untuk menyampaikan petisi agar kembali ke UUD 1945 asli sebagai solusi bangsa. Dan kami juga sudah mengurus izin ke PMJ. Dan saya sudah bicara dengan Ketua MPR menemui kami. Namun dia tidak bisa hadir karena ada kegiatan lain dan berjanji kalau ada waktu akan datang. Kalaupun berhalangan Hidayat Nur Wahid dipersiapkan untuk menggantikan Zulkifli,” katanya.

Sejenak Rachmawati diam. Tak lama kemudian dia kembali berbicara. Namun suaranya terbata-bata dan menangis.

“Saya tidak menerima dituduh makar, pemufakatan jahat, atau menggulingkan pemerintah. Tuduhan itu fitnah dan pembunuhan karakter,” isak Rachmawati.