Polri Ingatkan Pendukung Calon Kepala Daerah Hindari Ujaran Kebencian

tito-karnavian
Kapolri Jenderal Tito Karnavian didampingi Irjen Boy Rafli Amar memberikan keterangan pers. Foto Yudha/pojoksatu

POJOKSATU.id, JAKARTA – Perang urat saraf sudah dilakukan para pendukung pasangan calon (Paslon) Pilkada 2017. Berbagai cara dilakukan, salah satunya diseminasi ujaran kebencian melalui media sosial oleh para Netizen.

Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Boy Rafli Amar mengatakan, konten medsos bernada hate speech atau ujaran kebencian adalah pelanggaran hukum.

“Kita senang netizen nggak melakukan diseminasi info yang bernuansa ujaran kebencian, kategori SARA, apalagi dikaitkan dengan kampanye,” ujar Boy di Mabes Polri, Selasa (27/9/2016).

Menurut Boy, ujaran kebencian bisa berdampak terhadap kelompok masyarakat lain. Boy mengatakan, masih banyak yang bisa dilakukan netizen untuk mempromosikan calon kepada daerah dalam kampanye.


“Misalnya konten diisi dengan tayangan program pembangunan yang ditawarkan, hal humanis terkait calon kepala daerah yang undang simpati publik. Daripada tayangan ujaran kebencian,” tandas Boy.

Kendati media sosial merupakan ruang kebebasan berpendapat, namun netizen bisa dijerat dengan Undang-Undang Informasi Transaksi Elektronik (ITE) jika mengisi konten ujaran kebencian. Polri tambah Boy melakukan langkah preventif dengan patroli siber.

“Tim cyber intens melakukan cyber patroli memonitor konten yang bernuansa ujaran kebencian, melanggar hukum. Ada 101 wilayah Pilkada. Jadi polisi dalam mengantisipasi dan mewaspadai hal bernuansa seperti itu,” tandas Boy.

(yud/pojoksatu)