Kejagung Istimewakan Mary Jane, Pengacara Merry Utami Protes

Devi Christa menunjukkan surat permohonan pemindahan ibunya ke Lapas Wanita tangerang. Foto Yudha/pojoksatu
Devi Christa menunjukkan surat permohonan pemindahan ibunya ke Lapas Wanita tangerang. Foto Yudha/pojoksatu

POJOKSATU.id, JAKARTA – Kejaksaan Agung dianggap tebang pilih terkait perlakuan yang diberikan kepada terpidana mati kasus narkoba yaitu Merry Utami dan Mary Jane. Mary Jane terkesan diistimewakan, sedangkan Marry Utami tetap diisolasi.

Setelah gagal dieksekusi mati pada Jumat (29/8/2016), Merry Utami yang merupakan mantan TKW hingga kini masih berada di ruang isolasi Lapas Cilacap, Jawa Tengah. Sementara Mary Jane yang merupakan WN Filipina langsung berbaur dengan warga binaan Lapas Wirogunan, Yogyakarta.

“Jadi hukum macam apa, ketika Mary Jane eksekusi dibatalkan langsung dipindahkan. Nah Merry Utami tidak dipindahkan,” kata kuasa hukum Merry, Muhammad Afif di Kejaksaan Agung, Rabu (21/9/2016).

Afif yang mendampingi anak Merry, Devi Christa ke Kejagung menuturkan, kewenangan pemindahan ke Lapas Tangerang di tangan jaksa eksekutor. Hal itu diketahui setelah mendapat surat dari Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (DitjenPas) Kemenkumham.


“Kami terima surat tanggal 7 September kemarin, DitjenPas tidak berani memindahkan atau turun blok Merry,” kata Afif.

Menurutnya, jika kliennya yang saat ini dalam kondisi drop baik fisik maupun psikologisnya dipindahkan dapat menyembuhkan. Pasalnya, saat menghuni Lapas Tangerang, Merry aktif dalam beberapa kegiatan.

“Di sana ada tata busana, olah vokal dan kerohanian. Merry aktif didalamnya,” ujarnya.

Untuk diketahui, Mary Jane merupakan terpidana mati yang masuk dalam jilid II. Namun, eksekusi dibatalkan lantaran ada permintaan dari Pemerintah Filipina bahwa Mary saat ini masih menjadi saksi kasus perdagangan orang. Sementara, Merry yang merupakan TKW dibatalkan eksekusinya akhir Agustus kemarin, karena mengajukan grasi.

(yud/pojoksatu)