Korban Selamat Kecelakaan Laut di Tanjungpinang Ungkap Saat Kapal Tiba-Tiba Diterjang Badai

tanjung pinang
Resty, warga Batam yang selamat saat menceritakan peristiwa karamnya pompong Tanjungpinang-Penyengat, Minggu pagi (21/8/2016). Foto: istimewa/boeralimar

POJOKSATU.id, JAKARTA – Peristiwa kecelakaan kapal pompong di Tanjungpinang menyimpan duka teramat dalam. Sebanyak 14 penumpang korban kecelakaan kapal itu dipastikan tewas setelah ditemukan Tim SAR Kepulauan Riau.

Seorang jenazah lagi ditemukan tim SAR Pemprov Kepri. Hingga saat ini tim SAR masih mencari satu korban lagi yang belum ditemukan.

Keempat korban yang ditemukan itu ialah Mustam 40, Muslichudin 31, Wawan Agustiawan 25, Trisna Anggun Damayanti (asal Bangka). Keempat korban sudah langsung di evakuasi ke rumah sakit terdekat.

Salah satu korban selamat, Resty (26), mengungkapkan kejadian saat kapal diterjang angin besar dan gelombang dahsyat jelang Pelabuhan SBP Antara Tanjungpinang dan Penyengat.
Berikut inti keterangan Resty kepada Basarnas:


1. Pompong berangkat pukul 08.30 WIB. Resty berada di Pelabuhan Penyengat untuk membeli tiket Kapal Pompong Menuju Pulau peyengat dengan kondisi Awan sudah mulai mendung.
2. Resty menanyakan kepada Penjual tiket apakah perjalanan ke Penyengat aman atau tidak soalnya mendung.
3. Penjual tiket menjamin perjalanan ke penyengat aman walapun dalam keadaan mendung.
Pukul 09.00 WIB di depan pelabuhan SBP Antara Tanjungpinang dan Penyengat, tiba-tiba angin kencang disertai hujan lebat dan ombak kuat.
4. Kemudian air laut mulai memasuki pompong dan para penumpang panik karena pompong semakin turun.
5. Pompong pun terbalik.Resty lalu melompat dan mencoba berenang meraih kapal yang terbalik sebagai tempat tumpuan agar tidak tenggelam.
6. Resty selamat bersama tekongnya, sementara 10 lainnya tewas dan lima masih hilang.

Sementara itu, informasi dari masyarakat sekitar, pompong tidak layak laut mengingat kondisi cuaca buruk (angin barat) dan sebagian besar penumpang tidak pandai berenang sehingga banyak menimbulkan korban.

Pada saat terjadi Laka Laut sudah diketahui oleh banyak orang namun karena kondisi cuaca yang sangat buruk sehingga tidak ada yang berani untuk menolong karena berisiko.

(nur/sta/pojoksatu)