Demi Lantik Tito, Jokowi Abaikan Seorang Guru Teraniaya Tuntut Keadilan di Seberang Istana

guru demo di istana
Nelly Hutabarat, guru asal Deli Serdang, Sumatera Utara, melakukan "unjuk rasa diam" seorang diri di depan Istana Negara, Jakarta, Rabu (13/7).

POJOKSATU.id, JAKARTA – Masih mengenakan seragam PNS-nya, Nelly Hutabarat, memberikan keterangan pers di seberang Istana Negara, Jalan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, RabuĀ  siang (13/7).

Guru asal Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut) itu, sengaja datang untuk melakukan “unjuk rasa diam” seorang diri.

Sementara, di dalam Istana, suasana seremoni kenegaraan tengah berlangsung jelang pelantikan Kapolri baru, Komisaris Jenderal Pol Tito Karnavian, oleh Presiden Joko Widodo.

Namun, aksi yang dilakukan Nelly tersebut tidak ada hubungannya dengan pelantikan Tito.


“Ini soal penindasan guru. Presiden harus tahu. Pemerintah tidak boleh abai,” seru Nelly saat memberikan keterangan pers.

Dalam aksinya, Nelly juga menyertakan sejumlah dokumen berupa salinan berkas dan foto-foto rumah dinasnya yang dirusak orang-orang bayaran.

Sebuah karton putih dikalungkan di lehernya. Pada karton tersebut terdapat pesan dengan tinta hitam untuk Kepala Staf Presiden, Teten Masduki.

Bapak Teten Masduki. Tolong saya ya Pak. Sudah 5 tahun saya berjuang untuk keadilan. Saya guru tertindas dari Kab. Deli Serdang Sumut. Datang ke Jakarta ini untuk bisa bertemu langsung dengan bapak Presiden. Harapan terakhir saya mewujudkan keadilan.

Nelly menuntut keadilan atas kasus penutupan sekolah dan pembongkaran rumah dinas secara paksa berdasarkan SK Kepala Dinas Dikpor, tahun 2011 silam.

Pembongkaran dan pengusiran tersebut disertai penganiayaan dan pengrusakan barang.

“Saya sudah bosan lapor polisi. Saya lapor ke Polsek Percut Sei Tuan, tapi sejak tahun 2011 tidak ada tindak lanjutnya. Pengusiran juga dilakukan saat proses gugatan masih berjalan,” paparnya.

Selain itu, selama lima tahun terakhur, Nelly juga menyurati sejumlah lembaga negara. Termasuk juga menemui M. Nuh selaku Menteri Pendidikan Nasional saat itu.

Beberapa tahun lalu dia pernah nekat mendatangi Istana Negara untuk mengadu langsung ke Presiden. Tetapi ditolak mentah-mentah oleh pasukan pengamanan Istana karena tidak membuat janji sebelumnya. Ia kemudian melayangkan surat kepada Presiden RI.

“Semua tidak ada yang merespon,” sesal Nelly.

PengosonganĀ  SDN 106159 Sampali Kecamatan Percut Sei Tuan di mana ia mengajar, dan pembongkaran rumah dinas Nelly dilaksanakan pada 24 November 2011 dengan cara sangat tidak berperikemanusiaan.

Pembongkaran dengan cara tidak manusiawi itu turut didalangi oleh Kepala SMPN 6, Elfian Lubis, yang mengeluarkan surat perintah eksekusi dua hari sebelumnya.

Padahal saat pembongkaran paksa berlangsung, proses hukum masih berjalan di Mahkamah Agung. Selain itu, SDN 106159 masih terdaftar di Dapodik Daerah maupun Dapodik Nasional.

Kerugian materi akibat pembongkaran itu sekitar Rp 150 juta. Ia pun melaporkan kasus penganiayaan dan pengrusakan itu kepada kepolisian sektor Percut Sei Tuan pada 30 November 2011. Namun sampai saat ini tidak ada tindakan hukum kepada para pelaku yang dilaporkannya.

(ald/sta/pojoksatu)