Kelompok Penggemar ISIS Semakin Banyak, Targetnya Mulai Acak

ancaman isis, serangan isis, isis terkini, ledakan bom
Kelompok ISIS

POJOKSATU.id, JAKARTA – Sepekan terakhir, kelompok teror ISIS dikabarkan mengganas. Mereka menggelar serangan teror di berbagai negara antara lain Turki, Perancis, Irak, Bangladesh, dan terakhir di Arab Saudi pada Senin malam.

Rangkaian serangan itu dikaitkan dengan ancaman seorang petinggi ISIS pada bulan Mei lalu bahwa Ramadhan kali ini akan jadi bulan yang sangat berdarah-darah bagi musuh mereka.

“Bukan mengecilkan makna peristiwa di Arab Saudi, otoritas Indonesia perlu lebih waspada terhadap potensi model serangan Turki dan Perancis terjadi di sini,” ujar peneliti terorisme dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi kepada wartawan, Selasa (5/7/2016).

Selain karena sudah terbukti terjadi di kawasan Thamrin pada Januari lalu, situasi dan kondisi Indonesia memang lebih memungkinkan model serangan teroris seperti terjadi di Bandara Istanbul Turki dan serangan terhadap aparat kepolisian.


Baginya, rangkaian serangan ISIS belakangan ini menunjukkan bahwa ISIS belum mengidentifikasi jelas musuh ideologisnya. Serangan ISIS lebih menggambarkan motif ekonomi-politik terkait aset, sumber daya dan teritorial.

Terkait Indonesia, ia mengingatkan bahwa masih sangat rentan terhadap aksi-aksi terorisme. Meski demikian, ia meragukan afiliasi langsung ISIS dengan kelompok-kelompok teror di Indonesia.

“Saya melihat mereka sebagai kelompok penggemar yang terinspirasi dan terus berupaya memelihara korespondensi dengan kekuatan-kekuatan utama ISIS di Timur Tengah. Juga mengajukan proposal bagi kiprah ISIS di Asia Tenggara dan sebagai daerah persiapan untuk menyerang Australia,” jelasnya.

Rangkaian serangan “kampanye horor” ISIS pekan ini, menurutnya bisa saja memotivasi mereka untuk kembali antusias berkorespondensi dan mengingatkan proposal-proposal yang telah diluncurkan.

“Tentu saja ‘reminder’ itu bukan sekedar surat, melainkan penanda. Berupa serangan kecil, simultan, sporadis dan acak, meski sasaran ruang publik dan aparat keamanan terutama yang relatif lemah, tetap yang paling potensial,” tambah Fahmi. [ald]