Miris.. Setiap Hari, 72 Anak Indonesia Alami Kekerasan Seksual

Aristiana di antara murid-muridnya. Dia menggagas PAUD Darurat untuk anak-anak yang kesulitan bersekolah.
Aristiana di antara murid-muridnya. Dia menggagas PAUD Darurat untuk anak-anak yang kesulitan bersekolah.. Foto: Anger Bondan/Jawapos

POJOKSATU.id, SURABAYA – Angka kekerasan terhadap anak di Indonesia setiap hari bertambah. Berdasarkan survei  pakar  kriminologi Universitas Indonesia (UI), setiap 20 menit terjadi kekerasan terhadap anak di Indonesia.

Hal ini berarti menunjukkan setiap harinya, sedikitnya sekitar 72 anak Indonesia yang mengalami kekerasan seksual. Angka ini tentunya begitu miris.

Data dari Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mencatat, sebanyak 21,6 juta kasus kekerasan terhadap anak terjadi sepanjang tahun 2010-2014.

Di mana sebanyak 58 persennya merupakan kasus kekerasan seksual. Bertepatan dengan peringatan hari ibu ke-87, melalui gerakan deklarasi Gerakan Nasional Anti Kejahatan Seksual Terhadap Anak (GNAKSA), Minggu pagi (13/12/2015) di Taman Bungkul, Jalan Raya Darmo.


Dalam kesempatan ini, Pemkot Surabaya, Jawa Timur ingin mengajak partisipasi berbagai elemen masyarakat untuk tersadar bahwa tindak kekerasan terhadap anak bisa terjadi kapan saja dan di mana  saja.

Untuk itu, perlunya partisipasi dari berbagai pihak ini didasari bahwa pelaku kekerasan umumnya   berasal dari lingkungan terdekat.

Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga Berencana (Bapemas KB) Surabaya Nanis Chairani menjelaskan, data dari pusat PPT P2A Surabaya tahun 2014 menyebutkan sebanyak 106 anak yang menjadi  korban kekerasan seksual, sedangkan hingga Oktober 2015, terdapat 43 kasus kekerasan seksual dimana  12 anak sebagai pelakunya.

“Kini, upaya untuk mereduksi dan mencegah jatuhnya korban menjadi tanggung jawab bersama, tak hanya pemerintah, namun juga berbagai elemen masyarakat. Orang tua tak lagi mengawasi anak mereka sendiri, tapi juga anak-anak yang ada lingkungan mereka. Salah satu caranya seperti memberikan pengawasan  dan edukasi kepada anak, sehingga anak tersebut bisa melindungi dirinya sendiri kelak,” imbuh Nanis seperti yang dilansir Radar Surabaya (Jawa Pos Group), Senin (14/12).

Pemkot Surabaya merespon Inpres No.5/2014 tentang Gerakan Nasional Anti Kejahatan Seksual Terhadap  Anak,  dengan mengadakan kampanye di Taman Bungkul yang diikuti berbagai elemen masyarakat, mulai  dari organisasi pelajar Surabaya (Orpes), tokoh agama, organisasi perempuan, LSM hingga forum anak Surabaya yang tersebar di tiap-tiap kelurahan.

Pelaksanaan kampanye ditandai dengan penandatangan spanduk oleh Pj Wali Kota Surabaya Nurwiyanto, Kepala BNN Kota Surabaya, Forpimda, jajaran SKPD terkait, Dewan Pendidikan, dan Anggota DPRD kota Surabaya, yang kemudian diikuti penekanan tombol sirine dan disambut dengan flashmob oleh ratusan pelajar.

(ima/iku/awa/jpg/pojoksatu/zul)