Kemenlu Kasih PR Disnaker Cianjur

tki bermasalah
Ilustrasi TKI
Ilustrasi TKI
Ilustrasi TKI

POJOKSATU – Bekerja di luar negri sebagai pekerja informal sepertinya masih banyak diminati masyarakat Cianjur. Kementrian Luar Negeri (Kemenlu) pun memberikan pekerjaan rumah (PR) Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) khususnya Kabupaten Cianjur untuk bisa mengawasi warganya dalam melakukan pendataan.
Kasubdit Repatriasi dan Bantuan Sosial Kemenlu, M Aji Surya menjelaskan, sejumlah TKI banyak yang berasal dari desa. Sayangnya, mereka kurang diberi keterampilan sebelum diberangkatkan.

“Tak hanya itu, mereka juga banyak berangkat dari penyalur ilegal atau calo, sehingga ketika terjadi sesuatu, Kemenlu kesulitan untuk bertindak dikarenakan kekurangan data,” ungkapnya.

Secara teknis, Kemenlu pun menemui kesulitan karena tak bisa mememeriksa rumah satu per satu keberadaan TKI saat bekerja. Untuk itu, diperlukan pendataan yang lengkap. Menurutnya, ini menjadi tugas khusus bagi Disnaker untuk bisa melakukan pendataan. “Disnaker harus kerja keras dan tak boleh ikut main-main,” tegas Aji.

Ia menjelaskan, Disnaker harus melakukan sosialisasi kepada warga desa sesaat sebelum TKI melakukan keberangkatan. Maraknya calo yang beredar di wilayah desa kerap memberikan iming-iming masyarakat dengan jumlah uang yang besar.


Kebanyakan TKI yang mengalami kekerasan atau tak bisa dipulangkan karena tidak memiliki keterampilan, serta minimnya bahasa sebagai alat sosialisasi sehingga sering terjadi miss comunication.

Aji memaparkan, setiap penyalur akan dibayar majikan asal luar negeri mencapai Rp80 juta. Ketika majikan tidak mendapatkan tenaga yang sesuai, maka tak jarang yang naik pitam dan menimbulkan kekerasan.

2017 mendatang, tidak akan ada pekerja informal yang pergi ke luar negeri. Hanya saja, ada beberapa pekerjaan yang tersedia sebagai pekerja terlatih seperti pengurus rumah tangga, penjaga bayi, tukang masak, pengurus lansia, supir keluarga, tukang kebun, dan penjaga anak.

Namun pada hakekatnya semua itu masih pekerja Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT) dan sifatnya masih semu.

“Meski begitu, para pekerja akan lebih mendominasi di sektor yang derajatnya lebih tinggi seperti di perusahaan publik, sektor jasa, maupun UMKM. Sehingga tidak ada pekerjaan yang low level atau yang ga enak lah ” jelasnya ketika mendatangi Kantor Radar Cianjur (Grup Pojoksatu.id Minggu (29/3). (cr1/dep)