Penjual Tiket Travel Terduga ISIS

Ilustrasi pasukan ISIS
Ilustrasi pasukan ISIS
Ilustrasi pasukan ISIS

POJOKSATU – Perburuan anggota jaringan kelompok teror yang menodai Islam, Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), terus berlanjut. Setelah menyisir Malang, Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror menangkap RS (Ridwan Sungkar) alias Abu Bilah alias Ewok, 40, warga Jalan KH Abdul Fattah Gang I, Desa Mangunsari, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung, Jumat (27/3) pukul 09.15.

Kapolres Tulungagung AKBP Bastoni Purnama menyatakan, RS ditangkap tim Densus yang beranggota sekitar 20 orang di rumahnya karena diduga terlibat jaringan ISIS. Bahkan, dia beberapa tahun silam pergi ke Syria. RS tidak melawan saat ditangkap. ’’Kini masih didalami tim Densus di Polda Jatim,’’ ungkap pria berkacamata tersebut.

Setelah penangkapan, tim Densus dan personel Polres Tulungagung menggeledah rumah RS. Polisi menemukan satu dus compact disk (CD), buku-buku jihad, serta senjata tajam berupa dua samurai.

Menurut warga setempat, selama ini RS bekerja di sebuah biro travel di Trenggalek. Karena itu, dia jarang berkumpul dengan warga. Kepala Desa Mangunsari Agus Fahrozi menyatakan tidak begitu mengenal sosok RS, meski yang bersangkutan merupakan warga asli desanya. Sebab, RS jarang terlibat dalam kegiatan desa apalagi menjadi perangkat desa. Selama ini, warga sekadar tahu bahwa RS adalah santri. ’’Namun, warga tidak curiga sebagai terduga teroris,’’ ungkapnya.


Sementara itu, dari informasi yang dihimpun di lapangan, RS bekerja di sebuah agen reservasi tiket pesawat di Jalan Abdur Rahman Saleh 2, Kelurahan Surodakan, Trenggalek, serta di Karya Jaya Mandiri, Jalan A. Yani Barat 141, Tulungagung. Ada informasi, RS sudah lama terlibat dengan paham radikal. Bahkan, pada 2002, dia pernah ke Syria dan pada 2009 didatangi Abu Bakar Ba’asyir.

Sementara itu, Ketua RT 04 Abdul Haris tidak menyangka salah seorang warganya diduga terlibat jaringan ISIS. Dia baru mengetahui setelah ada panggilan dari Polres Tulungagung soal penangkapan salah seorang warganya. Menurut Haris, RS dulu memang pernah mendalami ilmu agama di salah satu pondok pesantren di wilayah Campurdarat, Tulungagung.

Densus 88 diprediksi bakal menyerbu Malang Raya lagi. Tidak hanya ke Kota Malang, melainkan juga ada kemungkinan ke wilayah Kabupaten Malang yang terindikasi menjadi basis gerakan radikal ISIS.

Hal tersebut diperkuat informasi dari Komandan Korem 083/Baladhika Jaya Kolonel Arm Totok Imam Santoso. Dia menyatakan, masih ada beberapa titik di wilayah hukumnya yang diduga menjadi kantong-kantong anggota gerakan radikal ISIS. ’’Ada 5–6 kecamatan yang diduga kuat tempat anggota ISIS,’’ kata Totok saat acara silaturahmi Forpimda Malang Raya kemarin (27/3). Namun, dia enggan menyebutkan pasti daerah mana saja yang dimaksud itu.

Dari Jakarta dikabarkan, Polri memastikan bahwa empat di antara lima terduga teroris yang ditangkap di sekitar Jakarta pekan lalu telah berstatus tersangka. Seorang di antara mereka dipastikan tidak terlibat dan dikembalikan kepada keluarganya, yaitu Yufrizal.

’’Empat tersangka itu dijerat UU Antiterorisme dan Makar. Mereka terkait dengan rekrutmen anggota ISIS dan pencari dana kegiatan terlarang tersebut. Hingga saat ini, empat orang itu terus diperiksa,’’ terang mantan Kadivhumas Polda Metro Jaya tersebut.

Sementara itu, belum ada kepastian soal tiga terduga anggota ISIS yang ditangkap di Malang, apakah ditetapkan sebagai tersangka atau tidak. Polri memiliki waktu 7 x 24 jam untuk menelusuri. ’’Kami akan mendalami lagi,’’ tegasnya.

Sementara itu, Kapolda Jatim Irjen Pol Anas Yusuf menyatakan, RS diketahui pernah mengikuti pelatihan di Syria selama dua bulan. Dia baru kembali ke Indonesia dan tinggal di Tulungagung. Selama tinggal di sana, aktivitas sosial di lingkungannya tampak wajar. Dia bekerja seperti biasa dan tidak begitu menunjukkan misinya.

Mantan Wakabareskrim Mabes Polri itu menambahkan, sudah ada 18 orang di Jatim yang direkrut jaringan At Tamimi dan dikirim ke Syria tahun lalu. Mereka direkrut jaringan Malang dan Tulungagung. ’’Salah satu barang bukti yang disita adalah dokumen. Yang lain masih dikembangkan,’’ ucapnya.

Dia menjelaskan, banyak faktor yang membuat warga mau direkrut dan diajak ke Syria. Antara lain, masalah ideologi, ekonomi, dan pendidikan. Anas mencontohkan, salah satu iming-iming tersebut adalah uang sekian dolar. Padahal, kenyataannya tidak seperti itu. Bahkan, ada anggota tim Densus 88 yang menelusuri sampai Syria dan bertemu mereka. ’’Mereka menyatakan seperti itu,’’ imbuhnya. (zal/and/idr/eko/c5/kim/dep)