Wayang Lumpur Hebohkan Cianjur

WAYANG LUMPUR: Aksi wayang lumpur bentuk keprihatinan kondisi Cianjur.
WAYANG LUMPUR:  Aksi wayang  lumpur bentuk  keprihatinan  kondisi Cianjur.
WAYANG LUMPUR:Aksi wayanglumpur bentuk keprihatinankondisi Cianjur.

POJOKSATU – Sesosok wayang lumpur hadir di jalanan kota Cianjur, Kamis (26/3) siang kemarin. Aksi wayang lumpur ini kontan jadi tontonan warga. Bahkan tidak jarang, sejumlah pejalan kaki sengaja mengabadikan kejadian itu dengan menggunakan kamera telepon selularnya.

Aksi itu merupakan bentuk ekspresi dari dua seniman yang juga jurnalis Cianjur berkenaan dengan semakin dekatnya agenda pesta demokrasi lima tahunan guna memilih pemimpin Kabupaten Cianjur melalui pemilihan kepala daerah (pilkada).

Aksi seni jalanan kali ini diawali dengan sesosok wayang yang sekujur tubuhnya dilumuri dengan lumpur, mulai dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Tidak ada sedikitpun bagian tubuh sang seniman itu yang luput dari lumpur yang berwarna abu-abu pekat.

Sekitar pukul 10.00 WIB, wayang itu pun hanya berdiri serupa patung di persimpangan Tugu Ngaos, Mamaos, Maenpo. Karena persimpangan tersebut merupakan persimpangan yang sangat ramai dilalui kendaraan, tak pelak, aksi patung wayang lumpur itu pun menjadi tontonan bagi warga yang dengan sengaja memperlambat laju kendaraannya.


Selang kemudian, berbagai poster dengan berbagai tulisan pun tergantung pada bagian tubuh wayang tersebut. Mulai dari tulisan bernada tentang pembangunan Kabupaten Cianjur yang sangat jauh dari harapan, kekecewaan terhadap pemerintah daerah serta pilkada.

Salah satu poster yang cukup menonjol yakni ajakan kepada seluruh masyarakat agar menjadi pemilih yang pintar. Tujuanya untuk menghasilkan pemimpin yang bisa memajukan Kabupaten Cianjur.

Selain itu, ada juga poster yang bertuliskan ‘Pilkada Cianjur milik semua warga’, ‘Tolak antek-antek titipan’, ‘Selamatkan Cianjur dari kehancuran’, dan lainnya.

Deden Abdul Aziz, seniman yang memerankan diri sebagai sang dalang mengatakan, aksi teaterikal itu dilakukannya sebagai bentuk luapan ekspresi sekaligus protes atas proses pembangunan yang tidak merata di Kabupaten Cianjur selama ini.

“Aksi ini sebagai bentuk keprihatinan kami terhadap carut-marutnya proses pembangunan yang tidak karu-karuan seperti sekarang ini. Lihat saja, dimana-mana jalan rusak, bangunan sekolah banyak yang tidak terurus, layanan kesehatan sangat tidak mencerminkan kemanusiaan,” kata Deden.

Selain memprotes kinerja Pemkab Cianjur, kedua seniman itu juga menyikapi datangnya pilkada Cianjur. Hal itu dirangkum ke dalam dialog sang dalang yang tidak henti-hentinya mengajak masyarakat agar menjadi pemilih yang pintar dalam menentukan pilihannya.

Dalam dialognya, sang dalang menyatakan bahwa momen pilkada adalah momen yang sangat menentukan masa depan Kabupaten Cianjur. Oleh karena itu, ia pun tidak henti-hentinya mengingatkan masyarakat agar memilih sesuai dengan hati dan pikiran.

Oleh sebab itu, kata dia, kesalahan dalam memilih pemimpin, ujung-ujungnya, hanya akan memberikan dan menambah kesengsaraan kepada masyarakat dan Cianjur saja. Satu suara yang diberikan ketika pencoblosan, adalah penentuan dari nasib Cianjur dan seluruh masyarakatnya.

“Kalau dikasi uang terima saja. Tapi tetap pilih sesuai hati dan pikiran masing-masing. Jangan mau seperti boneka ini yang tidak bisa melakukan apa-apa kecuali ada yang menyuruh, memerintah dan menggerakkannya. Manusia itu bukan boneka atau wayang. Manusia itu punya otak dan hati yang bisa dipakai. Rakyat Cianjur harus pintar memilih,” ajak Deden.

Ditambahkan seniman yang rutin menulis karya sastra dan bermain teater itu, pilkada adalah milik semua masyarakat Kabupaten Cianjur yang majemuk, plural, multi agama dan terdiri dari beragam suku dengan berbagai latar belakang sosial dan budaya serta tradisi yang berbeda.

“Semua orang berhak untuk ikut memeriahkan pilkada Cianjur. Mau dari suku, agama, strata sosial, dan latar belakang apapun. Ini adalah hak asasi manusia,” tegas Deden.

Kedua seniman itu tidak hanya beraksi di simpang Hypermart. Mereka pun menyusuri Jalan Ir H Juanda menuju ke kantor KPU Cianjur di Selakopi. Di kantor penyelenggara pemilu itu, keduanya pun kembali menggelar aksi dalang-wayang serta mengingatkan KPU Cianjur agar tetap netral dan tidak menjadi boneka dari pihak-pihak tertentu.

Setelah dari kantor KPU Cianjur, keduanya pun langsung bergeser ke pasar-pasar. Tentu saja, dengan keunikan itu, mengundang perhatian warga. Pengawalan pun dilakukan pihak Polres Cianjur dengan mengerahkan Polwan. Selama aksi berlangsung, sang wayang pun memilih tutup mulut layaknya patung.

Terpisah, Kapolres Cianjur, AKBP Dedy Kusuma Bakti, mengapresiasi cara penyampaian aspirasi yang cukup sederhana, tetapi tetap unik dan menarik itu. Menurut Dedy, aksi tersebut merupakan bagian dari kebebasan berekspresi dan berpendapat yang dilindungi undang-undang.

“Mengungkapkan pendapat sejatinya adalah ruh dari demokrasi, selama hal itu dilakukan dalam koridor dan ketentuan perundangan yang berlaku,” ucap Dedy.(ruh/dep)