Terduga ISIS di Malang Dibentuk Abu Jandal

Ilustrasi pasukan ISIS
Ilustrasi pasukan ISIS
Ilustrasi pasukan ISIS

POJOKSATU – Upaya perburuan terhadap kaki tangan kelompok teroris ISIS oleh Densus 88 Mabes Polri di Malang masih berlanjut Kamis (26/3). Jika sehari sebelumnya menangkap tiga warga Kota Malang yang diduga orang penting dari kelompok orang-orang bengis itu, kemarin sekitar pukul 10.00 Densus menangkap Tonori, 35, warga Jalan Terong, RT 06 RW 03, Bumiayu, Kecamatan Kedungkandang.

Dari penelusuran Densus, empat warga Kota Malang yang sudah ditangkap memiliki keterkaitan dengan salah seorang panglima ISIS, yakni Salim Mubarok Attamimi alias Abu Jandal. Tonori belakangan diketahui merupakan salah seorang pekerja Junaidi yang ditangkap sehari sebelumnya.

Sama dengan aksi sehari sebelumnya, Kamis kemarin (26/3) Densus melakukan operasi senyap. Dengan 15 personel, dalam meringkus Tonori, tim Densus menggunakan sepeda motor dan berpakaian serbahitam. Saat ditangkap kemarin siang, Tonori baru tiba di rumah mertuanya setelah membelikan buku untuk anaknya di toko buku daerah Pasar Besar. Tonori yang mengendarai sepeda motor Vega N 5760 HL tiba-tiba ditangkap tim Densus.

’’Waktu itu tidak ada orang. Saya melihat menantu saya dibawa polisi,’’ kata Musahada, mertua Tonori, kepada Jawa Pos Radar Malang (Grup Pojoksatu.id) saat ditemui di rumahnya Kamis kemarin (26/3).


Saat penangkapan itu, Tonori dibawa tanpa paksaan oleh tim Densus. Dia lantas diboncengkan dengan diapit dua anggota Densus. ’’Menantu saya juga tidak melawan,’’ imbuhnya.

Soal hubungan dengan Junaidi, Sattar membenarkan bahwa Tonori merupakan karyawan Junaidi yang bertugas menjualkan baksonya. ’’Hanya itu. Kalau hal yang lain, tidak ada kaitan,’’ ujarnya.

Selama sepuluh tahun menjadi menantunya, kata Sattar, Tonori yang asli Gondanglegi tidak pernah bepergian ke luar negeri atau luar kota. Dia juga membantah bahwa Tonori pernah berjihad ke Syria. ’’Mana bisa Mas, wong anak tidak bisa apa-apa, hanya lulusan SD (sekolah dasar),’’ imbuhnya.

Sementara itu, Masyrifa, istri Tonori, tidak mau berkomentar saat wartawan menyambangi rumahnya. Perempuan bercadar itu menghindar dengan masuk ke dalam rumah. Dari pantauan koran ini, di samping rumah Sattar, terdapat Masjid Al Muwahid. Tidak seperti masjid biasanya, lebar masjid itu hanya 3,5 meter dengan panjang 10 meter. Masjid tersebut juga berada di tengah-tengah rumah Sattar dan Tonori.

Saat disinggung soal masjid tersebut, Sattar menjelaskan, tidak ada yang perlu dicurigai soal masjid itu. Dia menegaskan, masjid tersebut sama dengan masjid yang lain. Saat Jumatan, masjid tersebut selalu dipenuhi jamaah. ’’Saya mendirikan masjid ini karena ada persoalan dengan pimpinan masjid lain. Karena itu, daripada ribut-ribut, saya buat masjid sendiri,’’ ungkapnya.

Empat warga Kota Malang yang sudah ditangkap Densus 88 masih memiliki keterkaitan dengan salah seorang panglima ISIS, yakni Salim Mubarok Attamimi alias Abu Jandal. Berdasar pengakuan sejumlah sumber, Abu Jandal yang mendadak populer karena pernah menantang Panglima TNI Jenderal Moeldoko, Polri, dan Banser melalui YouTube pernah beberapa tahun tinggal di Kota Malang. Jandal pernah mengontrak rumah di sekitar Jalan Parseh Jaya, Kelurahan Bumiayu, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang.

Nah, tempat itu sekompleks dengan daerah tertangkapnya Junaidi yang dibekuk Rabu (25/3) di rumah kontrakannya di Jalan Parseh Jaya, dan Tonori, warga Jalan Terong, RT 06 RW 03, Bumiayu, yang ditangkap kemarin (26/3).

Taufiq, 50, salah seorang tokoh agama di Jalan Parseh Jaya, menjelaskan, Jandal memang pernah beberapa tahun mengontrak rumah di Jalan Parseh Jaya. ’’Dulu namanya kami kenal Salim Al Mubaroq. Dia memang pernah tinggal di sini dan sudah sekitar tiga tahun lalu tidak ada,’’ katanya saat ditemui di rumahnya yang tidak jauh dari rumah Junaidi.

Sekitar tiga tahun lalu, menurut dia, banyak warga Bumiayu yang diajak berjihad dengan berperang ke Afghanistan. Karena waktu itu belum ada ISIS, Jandal menamai gerakannya sebagai gerakan Salafi. ’’Saya juga pernah diajak berjihad. Saya tolak dan saya jelaskan bahwa perjuangan kita berbeda,’’ jelas pria yang mengaku warga Nahdlatul Ulama (NU) tersebut.

Selain dirinya, kata Taufiq, banyak warga Bumiayu yang diajak berjihad. Dia memperkirakan, ada sepuluh orang yang pernah diajak berjihad. ’’Tapi, tidak tahu ada yang berangkat atau tidak,’’ tambah pria yang rumahnya hanya berjarak setengah kilometer dari rumah Junaidi tersebut.

Soal kedekatan Jandal dengan Junaidi, Taufiq mengaku tidak mengetahui terlalu jauh. Hanya, menurut dia, pengusaha bakso tersebut sering terlihat bersama Jandal. ’’Saya juga tidak tahu dia (Junaidi) pernah berangkat berperang atau tidak,’’ katanya.

Meski demikian, menurut Taufiq, kira-kira enam bulan lalu Junaidi menghilang sekitar enam bulan. Dia tidak mengetahui apakah Junaidi pernah ke Syria sebagaimana isu yang beredar. ’’Tapi, memang sempat tidak ada enam bulan. Istrinya yang menjalankan usaha baksonya,’’ ungkapnya. (riq/c5/kim/dep)