Banyak Tumbuh di Jalan Protokol, Pohon Ini Beracun

Pojon Bintaro
Pojon Bintaro
Pojon Bintaro

POJOKSATU – Pohon bintaro mendadak jadi pembicaraan sejak ada penelitian yang mengungkapkan bahwa pohon tersebut beracun. Pohon yang mempunyai nama Latin Cerbera manghas itu disebut beracun pada buah, daun, dan getahnya.

Padahal, Pemkot Surabaya menanam pohon tersebut di beberapa tempat.

Pohon bintaro bisa mencapai tinggi 12 meter. Biasanya, pohon tersebut hidup di daerah pantai atau kawasan mangrove. Daunnya berbentuk lonjong dengan susunan berseling. Bunganya berbentuk trompet merah. Buahnya yang masih muda berwarna hijau menyerupai markisa. Namun, jika sudah masak, buah tersebut berwarna merah.

“Kalau kita bilang, memang ada beberapa yang beracun. Contohnya, pohon bintaro itu,” ujar Kepala Bidang Pertamanan dan PJU DKP Surabaya Mochammad Aswan.


Mencuatnya kabar bintaro beracun tersebut dimulai saat disampaikan hasil penelitian kandungan pohon bintaro oleh Trisno Wardani. Warga Jalan Darmo Permai Selatan itu menyatakan menemukan zat beracun dan mematikan tanaman sekitarnya karena menyerap air. Penelitian tersebut diujikan di Sucofindo, perusahaan BUMN yang bergerak dalam bidang pemeriksaan, pengawasan, pengujian, dan pengkajian.

Hal tersebut diamini Prof Dr Mangestuti Agil MS. Guru besar ilmu botani farmasi dan farmakognosi Fakultas Farmasi Unair itu menyatakan bahwa biji yang buah bintaro berbahaya. “Mengakibatkan kerusakan jantung,” tegasnya.

Aswan menyatakan, yang beracun dari tanaman tersebut adalah buahnya jika dimakan. Sementara itu, tujuan penanaman pohon bintaro hanya untuk penghijauan. Tumbuhan bintaro banyak dijumpai di jalan protokol dan taman di Surabaya. Tanaman tersebut mulai ditanam sejak sepuluh tahun lalu oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Surabaya.

Aswan membantah bahwa tanaman beradius 2 meter dari pohon bintaro akan mati. “Selama ini saya malah sering menanam tanaman lain seperti jenis semak di bawah bintaro. Buktinya, tidak mati,” katanya.

Menanggapi soal penelitian tersebut, Aswan tidak berani memastikan kebenarannya. “Saya selama ini belum pernah melakukan penelitian soal tanaman bintaro. Namun, saya bicara atas pengalaman dan pengamatan saya selama ini,” katanya.

Menurut cerita Aswan, dahulu Kenjeran merupakan daerah yang gersang. Beberapa tanaman dicoba untuk ditanam, namun mati. “Kemudian, saya mencoba menanam bintaro. Saya amati setelah menanam itu, tanaman lain mau tumbuh,” jelasnya.

Dinilai cocok, bintaro pun ditanam di tempat lain. Berdasar pengalaman tersebut, Aswan mengaku tetap akan menanam bintaro. Tanaman bintaro diibaratkannya pisau. “Jika pisau berada di tangan koki, akan menghasilkan masakan yang enak. Sebaliknya, jika pisau tersebut di tangan anak-anak, tentu berbahaya,” katanya. Tanaman bintaro, menurut Aswan, masih bisa ditanam di Surabaya.

Namun untuk antisipasi, DKP akan memberikan tanda untuk tanaman yang dianggap berbahaya. Pembuatan tanda tersebut dilakukan secepatnya. “Mungkin bentuknya seperti papan pemberitahuan. Misal, buah pohon ini berbahaya dimakan,” terangnya. (lyn/c6/ayi/dep)