Densus 88 Ciduk Tiga Anggota ISIS

WASPADA: Rumah terduga teroris Junaidi, 21, warga Jalan Terong, Bumiayu, Kedungkandang, Malang.
WASPADA: Rumah terduga teroris Junaidi, 21, warga Jalan Terong, Bumiayu, Kedungkandang, Malang.
WASPADA: Rumah terduga teroris Junaidi, 21, warga Jalan Terong, Bumiayu, Kedungkandang, Malang.

POJOKSATU – Aksi terorisme yang mengatasnamakan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) menyebar ke Kota Malang. Buktinya, Rabu (25/3) Densus 88 Antiteror Mabes Polri menangkap tiga warga Kota Malang yang diduga sudah bergabung sebagai anggota ISIS.

Tiga terduga kader ISIS yang tertangkap kemarin adalah Abdul Hakim Munabari, 35, warga Jalan Ade Irma Suryani III-A Nomor 306 RT 07 RW 11, Kel Kasin, Kec Klojen; Helmi Alamudi, 51, warga Jalan Soputan 2 RT 01 RW 01, Karangbesuki, Sukun; dan Junaidi, 21, warga Jalan Terong, Bumiayu, Kedungkandang.

Berdasar data yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang (Grup Pojoksatu.id), tim bentukan Mabes Polri itu menciduk tiga orang tersebut dalam operasi senyap. Saat beroperasi, tim Densus 88 yang diperkirakan berjumlah 12 personel tidak memakai seragam resmi seperti ketika menangkap jaringan teroris.

Aksi Densus 88 itu pun sempat mengecoh aparat kepolisian dari Polres Malang Kota. Karena awalnya sengaja diembuskan kabar bahwa densus akan melakukan penggerebekan di salah satu pesantren di Pakis, sejumlah polisi pun meluncur ke Pakis. Ternyata, di pesantren yang dimaksud tidak terjadi apa-apa.


Namun, sekitar pukul 10.30, densus melakukan penangkapan terhadap Abdul Hakim di Jalan Arif Margono. Saat ditangkap, Hakim sedang melintas di depan SD Al Irsyad, Jalan Arif Margono 11. Hakim sempat membeli botol untuk tempat jualan madu di salah satu toko di kawasan Jalan Arif Margono. Setelah membeli botol, dia hendak menuju SD Al Irsyad untuk menjemput anaknya yang bersekolah di tempat tersebut.

Belum sampai menjemput anaknya, Hakim tiba-tiba diberhentikan sekitar lima orang berbadan tegap yang memakai dua mobil. Saat itulah Hakim dicegat dan langsung digelandang ke dalam mobil untuk dibawa ke Mapolda Jatim. ”Kejadiannya sekitar pukul 10.00,” kata Sampan, salah seorang saksi di lokasi penangkapan.

Sampan mengaku tidak mengenal siapa yang ditangkap. Yang jelas, menurut dia, orang tersebut berhidung mancung dan berperawakan seperti orang Arab. ”Yang menangkap berpakaian hitam-hitam,” imbuhnya.

Berdasar data di kepolisian, Hakim ditangkap karena dideteksi menjadi anggota kelompok gerakan ISIS yang telah dilarang pemerintah Indonesia. Sebab, sekitar empat bulan lalu Hakim baru tiba dari Syria dan dikabarkan telah ikut perang. ”Dia menjadi anggota ISIS di sana,” kata salah seorang polisi tersebut.

Setelah menciduk Hakim, sekitar pukul 14.00 Densus 88 kembali bergerak menuju Jalan Soputan, Kelurahan Karangbesuki, Sukun. Dia langsung menangkap Helmi Alamudi yang juga diduga sebagai salah seorang tokoh kunci ISIS di Jatim.

Helmi yang selama ini tinggal bersama mertuanya ditangkap di depan rumahnya. Ketika itu dia baru tiba di rumah dengan mengendarai sepeda motor. ”Sering intel datang ke sini. Hari ini ternyata Helmi ditangkap,” kata salah seorang satpam perumahan tersebut kemarin.

Berdasar informasi dari kepolisian, Helmi adalah orang kuat di ISIS. Sebab, Helmi-lah yang mengoordinasi keberangkatan simpatisan ISIS dari Jatim ke Syria yang menjadi markas ISIS. Dia bahkan disebut-sebut sebagai yang memberangkatkan Abu Jandal, pentolan ISIS yang sempat mengancam Panglima TNI Moeldoko dan Banser melalui YouTube. ”Sudah lama diintai, baru tertangkap ini,” kata salah seorang anggota kepolisian.

Setelah menangkap Helmi, tim densus pada pukul 18.30 mengarah ke Jalan Terong, Kelurahan Bumiayu, Kedungkandang. Sasarannya adalah Junaidi. Dia juga dideteksi telah bergabung dengan ISIS. Penjual bakso itu tanpa melakukan perlawanan langsung dibawa ke Mapolda Jatim. Namun, sasaran densus belum berakhir. ”Target Densus 88 ada empat terduga anggota ISIS, tapi baru tiga yang tertangkap,” ungkap salah seorang polisi.

Sementara itu, keluarga Hakim mengaku kaget atas penangkapan yang dilakukan polisi. ”Saya tidak tahu, Mas. Ketika penangkapan, ada di luar kota. Di rumah sedang tidak ada orang,” kata Siti Aminah, salah seorang sepupu Hakim, saat ditemui di rumahnya. Saat hendak ditanya lebih lanjut, Aminah enggan menjawab dengan alasan sedang shock. ”Kami sedang berduka, maaf ya,” katanya. (riq/idr/c9/end/dep)