NU: ISIS Bukan Islam

ISIS
ISIS. Foto: Ist
ISIS. Foto: Ist

POJOKSATU – Paham Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), meskipun ‘dilabeli’ Islam, adalah paham yang sudah menyimpang jauh dari ajaran agama Islam yang sebenarnya. Bahkan, paham tersebut sangat menyesatkan.

Hal itu diungkapkan Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Cianjur, KH Khoirul Anam, ketika ditanya pendapatnya tentang paham ISIS yang akhir-akhir ini menjadi isu terhangat di Indonesia.

Menurut dia, bagaimana mungkin ISIS yang mengaku sebagai bagian dari ajaran agama Islam sedangkan yang menjadi target dan korban-korban serangannya adalah umat Islam juga. Dari hal yang paling sederhana itu saja, Khoirul menganggap, bahwa paham ISIS adalah sesat menyesatkan.

“Ini saja yang diserang sesama Islam. Ajaran apa itu. Semua-semua kok diserang membabi-buta,” kecam Khoirul.


Selanjutnya, Khoirul menjelaskan, selain menyerang sesama umat Islam, ISIS juga telah menghancurkan makam nabi. Kalau memang benar mereka Islam, seharusnya hal itu tidak akan terjadi. Pasalnya, sebagai umat Islam, tidak akan mungkin dan mustahil malah menghancurkan makam nabi-nabinya sendiri.

“Makam nabinya sendiri saja dihancurkan. Coba bayangkan saja sendiri paham seperti apa itu,” tegas dia.

Kyai karismatik itu menjelaskan, jika memang dalam keadaan perang, ada fiqih perang yang seharusnya bisa menjadi dasar pemikiran. Dalam hukum perang tersebut dikatakan bahwa ada tiga hal yang menjadi pokok utama.

Yang pertama, sebut Khoirul, yang diperbolehkan untuk diserang hanyalah yang ada di dalam wilayah medan peperangan itu sendiri. Yang kedua, lanjut dia, yang diserang itu adalah harus yang sudah jelas-jelas musuh yang akan menyerang juga.

“Karena di dalam arena peperangan, tidak semua itu tentara. Ada permukiman penduduk dan penduduknya, ada petugas medis dan lain-lain yang tidak berhubungan dengan peperangan itu sendiri,” jelas Khoirul.

Sedangkan hal ketiga yang disebutkan dalam hukum perang itu adalah pelarangan keras untuk menyerang selain tentara perang, yakni anak-anak, wanita, orangtua dan jangan sampai merusak lingkungan.

“Itu adalah pesan Rasul ketika perang Badar. Bahkan beliau saja melarang sampai merusak lingkungan. Padahal perang Badar adalah perang terbesar di dalam sejarah,” ungkap kyai kelahiran Malang, Jawa Timur itu.

Dikatakan Khoirul, untuk menilai tingkat keimanan seseorang, bukan hanya didasarkan pada penampilan fisik dan apa yang tampak dengan mata saja. Melainkan lebih didasarkan pada kedalaman ilmu dan ibadahnya.

“Jadi orang itu dinilai bukan karena dia pakai surban atau tidak. Jauh dari sekedar surban dan jubah,” terang dia.
Untuk itu, Khoirul pun mengimbau kepada seluruh masyarakat, perangkat pemerintahan, tokoh agama dan masyarakat, aparat polisi dan TNI untuk bahu-membahu mengontrol serta waspada agar paham yang salah kaprah dan sesat-menyesatkan itu tidak berkembang.

“Jangan biarkan paham sesat-menyesatkan ini bekembang. Awasi dan pantau segala hal yang mencurigakan. Jangan berikan ruang dan kesempatan sedikitpun,” imbau Khoirul.(ruh/dep)