Usulkan Penggunaan HP di Lapas

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise

POJOKSATU – Kasus pelecehan seksual pada anak di bawah umur jadi perhatian khusus Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA) Yohana Susana Yembise. Mengingat jumlah kasus pencabulan di Kota Minyak cukup tinggi. Ia meminta peran aktif aparat dan pemerintah untuk menindak pelaku kekerasan pada anak.

Hal itu disampaikannya saat berkunjung ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) IIA Balikpapan. Kunjungannya untuk berinteraksi dengan anak-anak dan perempuan penghuni lapas. Ia miris melihat ada 8 dari 11 anak penghuni Lapas Balikpapan merupakan pelaku dugaan pelecehan seksual.

Yohana menyebut mereka bisa jadi korban penyalahgunaan internet. Meski konten yang berbau porno saat ini sudah dilarang beredar bebas, namun kualitas tontonan di internet maupun televisi bisa jadi pemicu. “Makanya peran orangtua mengawasi anaknya harus lebih ditingkatkan. Itu juga tugas saya untuk terus mengingatkan masyarakat,” bebernya.

Data yang diperoleh Kaltim Post (Grup Pojoksatu.id), selain 11 tahanan anak-anak di lapas, terdapat pula 56 perempuan yang merupakan tahanan Rutan Balikpapan. Dua di antaranya masih di bawah 17 tahun.


Saat mengunjungi Lapas Balikpapan, salah seorang tahanan perempuan, Bella menanyakan penggunaan telepon genggam di lapas atau rutan. Yohana berjanji akan mengusulkan kepada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham). “Saya mohon usulan itu bisa dipertimbangkan. Saya di sini untuk melindungi anak-anak dan perempuan serta menampung aspirasi mereka,” ucapnya disambut tepuk tangan.

Menurutnya, hal itu menjadi salah satu dari 31 hak anak yang sudah disepakati Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Di antaranya hak bermain, berkreasi, berpartisipasi, beragama, berkumpul, dan berhubungan dengan orangtua. Ia mengaku akan berdiskusi dengan Kemenkumham terkait hal tersebut.

Sementara itu, Kepala Lapas II A Balikpapan Edy Hardoyo mengatakan, larangan membawa telepon genggam ke lapas karena aturan yang sudah ditetapkan Kemenkumham. Sebab, penggunaannya sudah pasti akan banyak disalahgunakan. “Kami tahu banyak kasus peredaran narkoba yang dikendalikan dari ruang tahanan dengan modal HP,” terangnya.

Menurutnya, boleh saja ada usulan. Namun, tidak akan mudah usulan ini direalisasikan. “Di Balikpapan sendiri saya kira itu tidak cocok kalau diberlakukan. Toh kalau anak-anak mau menghubungi orangtua kami siap membantu,” pungkasnya. (*/rsh/rom/k9/dep)