Ribuan Nelayan Jogja Tolak Bantuan Perahu Menteri Susi

Berita Terkini, Nelayan, Menteri Susi
Ilustrasi

Berita Terkini, Nelayan, Menteri Susi
POJOKSATU.id, GUNUNGKIDUL – Ribuan nelayan di Gunungkidu, Jogja, ramai-ramai menolak bantuan perahu penangkap ikan dari Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Tak jelas alasan nelayan menolak bantuan perahu dari Menteri Susi ini.

”Nelayan di sini terang-terangan menolak,” Kepala Dinas Kelautan dan  Perikanan (DKP) Gunungkidul Agus Priyanto seperti dilansir Radar Jogja.

Dia menjelaskan, tawaran bantuan tersebut sudah disam-paikan mulai dari nelayan di Pantai Gesing hingga Sadeng. Jika gayung bersambut, maka akan segera diproses untuk diajukan ke pusat.

”Padahal bantuan kapal di atas sepuluh gross ton (GT) ini telah disosialisasikan kepada seluruh nelayan. Sayangnya peluang tersebut tidak direspons,” tandas Agus.


Dia menjelaskan, tawaran bantuan tersebut sudah disampaikan, mulai nelayan di Pantai Gesing hingga Sadeng. Jika gayung bersambut, maka akan segera diproses untuk diajukan ke pusat.

”Terlebih, bantuan kapal dikhususkan untuk nelayan lokal asli Gunungkidul saja. Namun nyatanya, saat ditawari mereka tidak mau,” ungkap Mantan Kepala Satpol PP itu.

Menurutnya, program bantuan kapal diberikan dengan harapan agar bisa menyejahterakan kehidupan nelayan. Dengan kapal ukuran di atas sepuluh GT, nelayan memiliki daya jelajah penangkapan lebih luas. Dengan begitu peluang mendapatkan ikan akan lebih besar lagi.

”Kami tidak tahu permasalahannya seperti apa? Padahal kalau bisa melaut dengan jarak 25 mil ke atas, potensi ikannya sangat melimpah. Jenis tangka-pannya pun bervariasi, mulai dari tongkol, tuna, cakalang dan masih banyak ikan yang lain,” bebernya.

Sementara itu, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Gunungkidul Rujimanto ketika dikonfirmasi mengaku tertarik dengan program tersebut. Namun demikian, yang menjadi persoalan adalah akses pelabuhan.

”Pelabuhan yang ada sekarang ada di Sadeng. Coba kalau  posisinya di tengah-tengan misalnya Baron, tanpa pikir panjang saya ambil bantuan tersebut. Tapi kalau pelabuhannya masih di Sadeng, tentunya kami harus berpikir ulang,” kata Rujimanto.

Kenapa demikian? Dia beralasan, untuk sampai di Pelabuhan Sadeng membutuhkan waktu lama, mengingat jarak cukup jauh. Otomatis situasi demikian berpengaruh terhadap biaya operasional nelayan. Permasalahan lain yang membuat kapal itu urung diterima karena nelayan harus melakukan adaptasi.

Terlebih lagi, peralatan yang ada juga merupakan barang baru sehingga membutuhkan waktu untuk pembelajaran.

”Paling penting adalah mengasah kemampuan nelayan untuk menjadi pelaut ulung. Sebab, saya akui nenek moyang kami bukan seorang pelaut, tapi  petani,” ucapnya. (gun/ila/ong/radar jogja)