Cianjur Tak Sehijau Dulu (2) Kota Bersemi Tak Cantik Lagi

IRONIS: Pembangunan besar-besaran kawasan industri di atas lahan pertanian produktif bakal berimbas pada mengurangnya hasil produksi padi di Kabupaten Cianjur. Foto : Farhan / Pojoksatu.id
IRONIS: Pembangunan besar-besaran kawasan industri di atas lahan pertanian produktif bakal berimbas pada mengurangnya hasil produksi padi di Kabupaten Cianjur. Foto : Farhan / Pojoksatu.id
IRONIS: Pembangunan besar-besaran kawasan industri di atas lahan pertanian produktif bakal berimbas pada mengurangnya hasil produksi padi di Kabupaten Cianjur. Foto : Farhan / Pojoksatu.id

POJOKSATU – Sebutan Kota Bersemi bagi Kabupaten Cianjur sudah hilang. Kalimat itu merupakan kata yang pantas disematkan dengan kondisi lahan hijau di Kabupaten Cianjur saat ini. Pasalnya, lahan hijau kini sudah berubah menjadi bangunan pertokoan, pabrik, dan bangunan megah lainnya.

Kota Bersemi pun harus memperjuangkan sejumlah tanah yang kini sudah mulai tandus, agar dapat kembali subur serta ditanami tanaman hijau. Padahal, Kabupaten Cianjur terkenal sebagai salah satu kota yang subur dengan lahan hijau.

Masih cukup banyak permasalahan yang menyeliputi Kota Santri ini, terutama dengan ketersediaan tanaman hijau yang sudah mulai beralih fungsi menjadi bangunan- bangunan. Hal itu makin ketara jika melongok di tiap wilayah yang dulunya banyak lahan hijau kini sudah tidak ada lagi.

Daerah itu yang dulunya banyak lahan hijaunya adalah Kecamatan Cianjur, Kecamatan Karangtengah, Kecamatan Ciranjang, Kecamatn Sukaluyu, Kecamatan Haurwangi yang sudah berubah menjadi bangunan pabrik.


Kasubag Umum dan Kepegawaian Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur, Wana mengatakan , bahwa dirinya sangat prihatin melihat kondisi lahan pertanian saat ini, terutama pesawahan yang kini sudah berubah menjadi bangunan yang megah. “Lahan pertanian seperti sawah sudah berubah fungsinya,” terang Wana.

Menurutnya, lahan pertanian khususnya sawah tak seharusnya dipangkas dan dijadikan sebagai lahan industri. Dampaknya terjadi pada perubahan atmosfir cuaca yang kini mulai gersang dan panas, karena hal itu sudah tidak ada lagi penyangga udara.
Dijelaskannya, untuk pengguna lahan pertanian produktif di Kabupaten Cianjur selama tahun 2014 mencapai 65.909 Hektar.

Kabid Bina Manfaat Dinas PSDAP Kabupaten Cianjur, Latif Ridwan Kamil menuturkan, bahwa pihaknya tidak akan bertanggung jawab terhadap masalah pengairan sawah. Pasalnya, itu bukan merupakan wewenang dari PSDAP melainkan Dinas Pertanian. “Ya itu bukan merupakan tugas kami. Karena selama ini sudah diserahkan tugasnya kepada pihak Dinas Pertanian,” tuturnya.

Terpisah, Kabid Informasi Badan Perizinan Terpadu dan Pelayanan Kabupaten Cianjur, Mirzani menambahkan, ada tujuh pabrik baru yang terdaftar pada pihaknya selama tahun 2014.

Ketujuhnya antara lain, Pabrik Garmen Ir. Robert Dio Desa Ramasari, Kecamatan Haurwangi, pabrik Garmen Delip Kumar di Desa Babakan Caringin Karangtengah, Pabrik Kaos Kaki Eric Susanto di Desa Cibiuk Ciranjang, Pabrik Garmen Kim Kap Kam di Desa Ciherang Pacet, Pabrik Garmen Loe Hendri di Desa Selajambe Sukaluyu dan Pabrik Nikomas di Desa Sukasirna Sukaluyu. “Sedangkan untuk tahun 2015 belum ada,” ungkapnya.(riz/dep)