Inilah Sosok Pemimpin Ideal Bagi Cianjur

jalur independen
Ilustrasi

thumb_572153_09010215022015_pilkada2

POJOKSATU – Gelaran pemilihan kepala daerah (pilkada) Kabupaten Cianjur, Desember mendatang harus jadi momentum penting bagi masyarakat Cianjur, untuk perubahan yang selama ini diidam-idamkan.

Hal itu diungkapkan, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Cianjur, KH Khoirul Anam, menyikapi suksesi kepemimpinan kota Gerbang Marhamah ini ke depan.

“Ini saatnya bagi Cianjur dan masyarakat Cianjur untuk mendapatkan perubahan yang selama ini hanya menjadi mimpi dan harapan semu. Jangan sampai disia-siakan,” tegas Khoirul ditemui di kantor PCNU Kabupaten Cianjur, Jalan Perintis Kemerdekaan, Cianjur, Kamis (19/3) kemarin.


Untuk itu, kyai karismatik ini menyerukan kepada seluruh masyarakat Cianjur agar jeli, cermat dan selektif dalam menentukan pilihan pemimpin yang amanah dan kredibel.

Maka dibutuhkan sosok pemimpin yang bisa diandalkan dan menjadi panutan karena kinerja dan karismanya, bukan karena kekuatan serta kewenangannya yang terkesan sewenang-wenang, baik terhadap masyarakat maupun bawahanya.

Khoirul menambahkan, sosok pemimpin yang ideal bagi Cianjur ke depan tidaklah sulit untuk didapatkan. Setidaknya, ia mengibaratkan, hal itu bisa dilihat di dalam masjid ketika shalat berjamaah. “Ya seperti imam shalat di masjid itu sosok yang ideal. Bukan yang lainnya,” tegas dia.

Yang dimaksud Khoirul, sosok imam shalat di masjid adalah sosok yang pastinya orangnya berpengalaman, fasih, bisa dipercaya, terbukti kualitasnya, amanah dan jujur.

Selain itu, sosok pemimpin itu juga haruslah mau mendengarkan kritik, jelas rekam jejak, mau turun ke bawah menemui masyarakatnya, memiliki keteladanan, demokratis dan tidak pernah sekalipun merasa tidak punya salah.

“Pemimpin yang benar itu tidak dilihat dari segi apapun, fisiknya seperti apa, tingginya seberapa, pangkatnya apa atau profesinya apa,” papar Khoirul.

Ia pun menyebut, agar masyarakat tidak percaya ataupun memilih orang yang tiba-tiba turun ke bawah menemui masyarakat hanya ketika mendekati pemilu. Menurut dia, hal itu dilakukan hanya sebagai pencitraan dan mendapatkan suara dukungan saja.
“Ujung-ujungnya, ketika sudah terpilih, dia akan lupa kepada masyarakatnya dan hanya sibuk memikirkan dirinya dan golongannya sendiri serta bertindak semau-maunya,” ungkapnya.

Menurut mantan Ketua KPU Cianjur ini, sosok pemimpin adalah orang yang tidak mengandalkan dan mengumbar visi-misi serta hal-hal yang bersifat sekedar tulisan dan pajangan di jalan-jalan. “Visi-misi itu hanyalah tidak lebih dari sekedar jargon-jargon mubadzir,” jelasnya.

Ia mencontohkan, dengan slogan Kabupaten Cianjur yang sekarang, yakni Cianjur Yang Lebih Baik dan Berahlaqul Karimah, disebutnya tidak lebih dari sekedar tulisan yang menjadi pajangan saja. “Tidak ada ukuran yang jelas dan tidak bisa dijadikan dasar sama sekali,” terangnya. (ruh/dep)