Gizi Buruk Bayangi Cianjur

GIZI BURUK : Oma saat menggendong Adin yang tampak lemas.
GIZI BURUK : Oma saat menggendong Adin yang tampak lemas.
GIZI BURUK : Oma saat menggendong Adin yang tampak lemas.

POJOKSATU – Kondisi bocah laki-laki penderita gizi buruk dan lumpuh layu Adim Sopian (9) warga warga Kampung Cihaur II RT 02/05, Desa Gunungsari, Kecamatan Ciranjang, Cianjur masih cukup memprihatinkan.

Pasalnya, hingga kini, anak bungsu Oma (40) itu, hanya menjalani bisa perawatan seadanya di rumah semi permanen milik orang tuanya. Selain perutnya yang terus membuncit, kondisi tubuh Adim semakin lemah karena pihak keluarga tidak mampu membawa bocah laki-laki itu berobat ke rumah sakit meskipun telah memiliki kartu sehat.

“Kami masih harus berpikir biaya untuk menunggui Adim selama dirawat. Kami hanya bisa pasrah karena untuk diam di rumah sakit kami membutuhkan biaya,” kata Oma.

Saat ini, ungkap Oma, anaknya itu hanya bisa dibawa ke puskesmas sekali dalam seminggu untuk melihat perkembangan tubuhnya. Meskipun, ungkap dia, sejak mengalami penyakit tersebut, kondisi tubuh anaknya itu tidak mengalami perubahan karena asupan gizi yang tidak sesuai. Sehingga, pihak keluarga hanya berharap mendapat keajaiban agar Adim dapat tumbuh layaknya anak-anak seusianya.


“Kami hanya bisa berdoa dan meminta ada keajaiban agar anak kami bisa tumbuh normal,” harap Oma.

Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Cianjur, Sapturo, saat dihubungi, mengaku prihatin dengan kondisi yang menimpa Oma dan anaknya itu. Pihaknya menilai, kejadian yang menimpa salah seorang warga Cianjur itu karena kurang aktifnya aparatur pemerintahan setempat.

“Ini sangat memprihatinkan. Harus ada tindakan yang tepat dan cepat. Tidak bisa dibiarkan lama-lama,” ucap Sapturo.

Karena itu, Sapturo pun berharap kepada pihak pemerintahan desa, kecamatan dan Dinas Kesehatan kabupaten Cianjur untuk segera turun ke lapangan dan menindak-lanjuti permasalahan tersebut. Bahkan, ungkap dia, pihak dewan siap membantu biaya orang tua penderita gizi buruk dan lumpuh layu itu selama menunggui anaknya di rumah sakit. “Dewan siap membantu biaya orangtuanya selama menunggui di rumah sakit,” tukas Sapturo.

Dalam data terbaru Dinkes Kabupaten Cianjur per pertengahan Maret 2015, sudah 23 kasus gizi buruk ditemukan. Para penderita gizi buruk itu semuanya berasal dari keluarga tidak mampu. Sedangkan pada tahun 2014 saja, setidaknya terdapat 205 kasus penderita gizi buruk berhasil ditemukan.

Sekretaris Dinkes kabupaten Cianjur, Hary Nurman melalui Kepala Seksi Gizi Masyarakat Bidang Pembinaan Kesehatan dan Gizi Masyarakat Lina Herlinayati, mengatakan, para penderita gizi buruk tersebut saat ini tengah ditangani dan dalam upaya untuk menstabilkan asupan gizi dan berat badan. Usaha rawat jalan dan pemantaun pun sudah dilakukan secara berkesinambungan.
“Hanya 23 kasus yang berhasil kita temukan saat ini masih dan dalam perawatan. Kita akan lihat berat badanya bulan depan, termasuk status gizinya berubah atau masih tetap,” kata Lina.

Dijelaskan Lina, untuk menangani kasus gizi buruk tidak bisa selesai dalam jangka waktu yang singkat. Perlu waktu berbulan-bulan untuk mengukur status gizinya. Itu pun juga tergantung dari kondisi penderitanya.

“Gizi buruk itu tidak bisa kita ukur satu bulan langsung bisa menaikkan status gizinya. Gizi buruk yang kurang makan kalau tidak ada penyakit lain, 3 bulan saja sudah bisa dilihat. Kalau ternyata ada penyakit penyerta, harus diobati penyakitnya terlebih dahulu baru gizinya,” jelas Lina.

Dikatakan Lina, ada dua kategori penderita gizi buruk, yakni gizi buruk murni tanpa adanya penyakit penyerta dan gizi buruk tidak murni atau adanya penyakit penyerta.

“Kalau yang murni diakibatkan kurangnya konsumsi makanan bergizi. Kalau diberikan makanan tambahan akan kelihatan pertumbuhannya. Kalau ada penyakit penyerta tidak akan kelihatan karena makanannya di makan penyakit penyerta,” papar dia.
Salah satu upaya penanganan yang saat ini tengah dilakukan pihaknya adalah melakukan dekteksi dini gizi buruk.

Dicontohkannya, kalau ada balita datang ke posyandu dan di KSMnya ada di Bawah Garis Merah (BGM) dan dua T (dua kali ditimbang tidak naik berat badannya,red)) itu sudah dideteksi petugas dan dikawatirkan berubah menjadi gizi buruk.

“Kalau sudah ditemukan seperti itu diperiksa dulu kondisi fisiknya dan dikosultasikan juga dengan dokter ada penyakit atau tidak. Kalau ringan, cukup hanya periksa rutin dan di konseling tiap bulan. Kalau memang perlu dirujuk ya kita rujuk. Itu hasilnya dari doker perlu dirawat atau rawat jalan,” urai dia.

Upaya penangan terhadap penderita gizi buruk saat ini tengah dilakukan pihaknya. Di antaranya, pemberian makanan tambahan selama 3 bulan berturut-turut, atau terus menerus. Koseling gizi harus terus dilakukan oleh para penderita.

“Gizi buruk ini fenomena gunung es. Kami melibatkan semua pihak terkait termasuk pemberdayaan posyandu, karena balita yang datang ke posyandu akan ketahuan. Pokoknya kita bergerak dalam deteksi dini melibatkan pukesmas, bidan dan posyandu,” pungkas dia.(ruh)