Dollar Melejit, Pengusaha Angkum Menjerit

IMBAS RUPIAH ANJLOK : Salah satu bengkel di Cianjur mengaku pendapatannya berkurang akibat imbas dari anjloknya rupiah.
IMBAS RUPIAH ANJLOK : Salah satu bengkel di Cianjur mengaku pendapatannya berkurang akibat imbas dari anjloknya rupiah.
IMBAS RUPIAH ANJLOK : Salah satu bengkel di Cianjur mengaku pendapatannya berkurang akibat imbas dari anjloknya rupiah.

POJOKSATU – Dengan anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dollar dalam beberapa waktu terakhir ini, memberikan imbas tersendiri. Salah satunya adalah naiknya spare part (suku cadang) kendaraan bermotor, utamanya untuk roda empat atau lebih.
Mau tidak mau, hal ini pun akhirnya berimbas pada para pemilik dan sopir angkutan umum (angkum). Pasalnya, dengan kenaikan suku cadang kendaraan tersebut, biaya operasional pun dipastikan bertambah.

Ecin (50), salah seorang pengusaha yang mengandalakan lima buah angkum trayek 05B ini mengaku cukup terpukul dengan kenaikan harga suku cadang kendaraan. Apalagi, untuk angkum, setiap bulannya memerlukan perawatan yang tidak jarang mengharuskan pergantian suku cadang tertentu.

“Harga spare part sekarang tambah mahal. Kemarin BBM naik itu, spare part juga sudah naik. Sekarang dollar kok tambah naik,” kata Ecin, Jumat (13/3) kemarin ditemui di bengkel angkumnya di Kampung Ciajag, Desa Sirnagalih, Kecamatan Cilaku, Cianjur.

Encin menambahkan, sejumlah spare part angkum yang harus mengalami pergantian secara rutin pun beragam bergantung kondisi angkum dan trayek yang dilewatinya. Adapun spare part tersebut adalah kanvas rem, leher stir, sayap peron dan oli mesin.
Menurut pengakuan Ecin, kenaikan harga spare part itu pun bervariasi. Setidaknya mulai dari Rp10 ribu hingga Rp20 ribu. Hal paling rutin yang harus dilakukan, kata Ecin, adalah oli mesin dan kanvas rem.


“Naik semua. Yang rutin diganti itu oli mesin dan kanvas rem. Kalau oli mesin sebelumnya Rp115 ribu jadi Rp130 ribu,” jelas Ecin.
Dengan adanya kenaikan harga spare part itu, secara otomatis, biaya perawatan yang harus ditanggungnya juga harus bertambah. Jika sebelumnya ia hanya mengeluarkan tidak lebih dari Rp600 ribu per bulan, kini setidaknya ia harus mengeluarkan Rp900 ribuan setiap bulannya.

Bertambahnya ongkos perawatan rutin setiap angkumnya itu, sambung Ecin, tidak dibarengi dengan bertambahnya penghasilan yang diperolehnya. Pasalnya, saat ini, penumpang juga semakin sedikit dan sulit. Ia mengaku, setiap harinya, setoran per angkumnya hanya Rp90 ribu. Jika ditotal dalam seminggu, hasil setorannya per angkum hanya Rp630 ribu.
“Itu masih biaya perawatan untuk servis saja, belum spare part. Pokoknya semua bertambah. Penghasilan berkurang tapi perawatan bertambah,” tutur dia.(ruh/dep)