Diduga Dicuci Otak, Siti Lestari Gabung ISIS

HILANG MISTERIUS: Siti Lestari (dilingkari) bersama teman kuliahnya di Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). (DOK. RADAR SOLO/POJOKSATU.id)
HILANG MISTERIUS: Siti Lestari (dilingkari) bersama teman kuliahnya di Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). (DOK. RADAR SOLO/POJOKSATU.id)
HILANG MISTERIUS: Siti Lestari (dilingkari) bersama teman kuliahnya di Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). (DOK. RADAR SOLO/POJOKSATU.id)

POJOKSATU – Warga Demak, Siti Lestari alias Riri alias Mame, 23, dikabarkan bergabung dengan jaringan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di Suriah, namun pihak keluarga belum menerima kabar resmi dari pemerintah.

Karena itu, dalam waktu dekat pihak keluarga akan melakukan konferensi pers di Solo, dan melapor ke Mabes Polri terkait hilangnya anak keempat dari pasangan suami istri Sugiran, 65, dan Surati, 54, tersebut. Ini sebagai supaya Siti segera ditemukan.

Surati, ibu Siti mengungkapkan, sudah jauh-jauh hari dirinya mengingatkan anaknya supaya tidak ikut pengajian yang dianggap nyeleneh atau menyimpang selama kuliah di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Ini pernah disampaikan Surati ketika mendengar kabar Siti ikut kelompok pengajian yang mengenakan cadar di Solo.

”Teman-temannya bercerita, anak saya tersebut kerap mengenakan penutup muka atau cadar. Saya pun ingatkan agar tidak aneh-aneh seperti itu. Saya minta mengenakan pakaian muslimah yang biasa saja. Saya ingin Siti konsentrasi dulu kuliahnya supaya bisa selesai dengan baik dan tidak ikut pengajian seperti itu. Tapi, akhirnya, ada kejadian seperti ini,” jelas Surati saat ditemui Radar Semarang di rumahnya, Dukuh Cangkring RT 2 RW 1, Desa Mulyorejo, Kecamatan Demak Kota, Jumat (13/3).


Surati pun terus bertanya-tanya, karena saat kehilangan jejak anaknya itu, rumahnya mendapati kiriman pakaian gamis Siti. Gamis itu biasanya dipadukan dengan penutup atau cadar. Karena itu, cerita teman-temannya tentang aktivitas Siti yang kerap ikut pengajian yang diduga menyimpang itu pun cukup meyakinkan keluarga.

Setahun lalu, kata dia, anaknya tersebut bersama orang yang mengaku sebagai temannya sempat pulang ke Demak. Bahkan, lelaki teman Siti yang belakangan diketahui bernama Mohamad Bahrun Naim Anggi Tamtomo (bukan Badrun Anggi Pratomo, Red) tersebut juga sempat menginap di rumah tersebut. Pihak orang tua Siti pun tidak merasa curiga dengan Bahrun.

”Waktu itu, mereka datang ke rumah ini membawa kendaraan roda empat jelek. Yang laki-laki mengaku sebagai teman Siti, dan bukan sebagai suami. Apakah keduanya sudah menikah, saya juga tidak tahu. Yang jelas, sebagai tamu, tetap saya hormati dengan baik. Tak tahunya malah membawa kabur anak saya, dan sekarang tidak jelas keberadaannya,” ujar Sugiran, ayah Siti.

Menurutnya, informasi terakhir dari pelacakan pihak keluarga, istri kedua Bahrun Anggi yang tidak diketahui namanya, sebelumnya memberikan kabar kepada saudaranya di Jakarta, bahwa Siti dan Bahrun akan ke Suriah. Namun jadi dan tidaknya mereka ke Suriah, tidak diketahui.

Istri kedua Bahrun yang asli Padang dan alumni sarjana pertanian dari Unibraw Malang saat di Solo tersebut diketahui menjadi guru mengaji Siti. Lama-kelamaan, Siti pun akhirnya didorong untuk jadi istri ketiga Bahrun.

Siti, berdasarkan cerita teman-temannya kepada pihak keluarga suatu saat pernah bilang mau dijadikan madu atau istri ketiga dari Bahrun tersebut. Istri pertama Bahrun asal Wonogiri telah dicerai. Pernikahan antara Siti dan Bahrun pun tetap menjadi pertanyaan pihak keluarga, karena ayah Siti, Sugiran, tidak pernah menjadi wali dalam pernikahan anaknya tersebut.

”Padahal, kalau mau nikah kan tetap ada walinya. Saat kita ke orang tua Anggi di Solo, kita pun hanya cukup tahu saja. Sebab, mereka pun tidak tahu-menahu soal anaknya Bahrun Anggi itu. Orang tua Bahrun hanya bilang bahwa anaknya sudah pergi ke Padang karena istri keduanya hamil tua,” ujarnya.

Sejak hilangnya Siti bersama Bahrun itu, status mereka di Facebook maupun di laman internet sudah tidak ditemukan lagi. Semua jejaknya dihilangkan, sehingga sulit dilacak keberadaan mereka. Pihak keluarga pun curiga nama mereka sudah berganti agar lolos ke Suriah. Keluarga pun merasa Siti telah terkena proses cuci otak, sehingga tidak mengindahkan nasihat orang tuanya tersebut.

Menurut Sugiran, sebelum Siti menghilang itu, ia dan istrinya, Surati, sudah menyiapkan lahan untuk mendirikan apotek di tempatnya merantau di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah (Kalteng). Namun, tanah yang ditawar sekitar Rp 140 juta itu pun belum jadi karena keburu ada kabar tentang hilangnya Siti tersebut.

Orang tua Siti menyiapkan lahan kerja di Kalteng, karena saudara Siti yang lain, yakni Sumiatun, Sudarmono, Sugiarti dan Sutrimo juga telah berwirausaha berjualan pakaian di Kalteng.

”Dia kan kuliah di Farmasi UMS Solo sudah mau kelar. Sebagai orang tua kita akan siapkan apotek untuk jualan obat-obatan. Tapi, akhirnya kita konsentrasi dulu mencari anak saya tersebut sampai ketemu. Dalam kondisi apa pun, anak saya harus ketemu dulu,” kata dia.

Sejak awal, Siti memang ingin menjadi apoteker. Karena itu, kuliahnya di Farmasi. ”Yang penting anak saya kembali,” timpal Surati, ibunda Siti.

Kepala Kesbangpolinmas Pemkab Demak, Taufik Rifai mengungkapkan, dugaan adanya warga Demak yang gabung dengan ISIS di Suriah itu, pihaknya segera melakukan koordinasi dengan instansi terkait. ”Kita koordinasi dengan pihak terkait dulu,” ujar Taufik kepada Radar Semarang, kemarin.

Sedangkan, Kapolres Demak AKBP Raden Setijo Nugroho melalui Kasubag Humas AKP Zamroni mengatakan, pihaknya akan terus memantau perkembangan yang terjadi. ”Kita monitor,” katanya.

Informasi yang dihimpun, sebelumnya, keluarga Siti telah melapor ke Polres Demak, namun karena kejadian perkara hilangnya Siti Lestari berada di Solo, maka laporan dilakukan di Poltabes Solo.

Seperti diberitakan Radar Semarang (Grup Pojoksatu.id) sebelumnya, seorang warga Demak diduga bergabung dengan jaringan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di Suriah. Dia adalah Siti Lestari, 23, mahasiswi Fakultas Farmasi semester 10 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang dikabarkan hilang sejak tiga pekan lalu. Perempuan yang akrab dipanggil Riri atau Mame tersebut tercatat sebagai warga Dukuh Cangkring RT 2 RW 1, Desa Mulyorejo, Kecamatan Demak Kota.

Putri pasangan Sugiran, 65, dan Surati, 54, ini kali terakhir pulang ke rumahnya untuk mengambil Bukti Pemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB) sepeda motor Yamaha Xeon dan kartu keluarga (KK). Namun, tidak diketahui pasti untuk apa Siti mengambil BPKB motor yang dipakai sebagai alat transportasi selama kuliah di Solo tersebut. Dimungkinkan, motor yang dipakai kuliah itu dijual untuk biaya pergi ke Suriah. (hib/aro/ce1/dep)