”Jika Ada Sniper maka Pembenaran Jakarta Tak Aman”

Unggung-Cahyono-2-595x279

Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Unggung Cahyono tak sependapat bila wilayah Ibu Kota dijaga sniper. Namun, daerah ibu kota akan disiagakan personel terbaik yang bertugas berpatroli setiap malamnya. Hal itu terkait pernyataan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahya Purnama alias Ahok serta hasil survey The Economist Intelligence Unit (EIU) bila status Jakarta kota paling tidak aman sejagat.

“Saya rasa belum perlu pengerahan sniper di Jakarta, nanti malah dikira Jakarta memang benar tidak aman. Jakarta dimata kepoliasian dianggap masih aman,” ungkap Irjen Pol Unggung Cahyono, Kapolda Metro Jaya kepada INDOPOS (PojokSatu Grup) di Mapolda Metro Jaya, Jumat (30/1).

Menurut Unggun, pernyataannya itu bukan berarti menentang pernyataan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Thahja Purnama. Akan tetapi dirinya memiliki solusi dalam mengamankan ibu kota yakni, dengan mempersiapkan personel terbaik di jajaran Polda Metro Jaya dan ditugaskan untuk melakukan patroli malam.


“Kalau saya, telah siapkan personel terbaik yang setiap malam berpatroli, kalau membahayakan baru kita lumpuhkan. Apa yang dilakukan Pemda kami dukung, terlebih Polda telah menempatkan pospantau dan personel bersenjata laras panjang di setiap titik rawan,” tukas mantan Kakor Brimob Mabes Polri itu.

Selain itu, sambung mantan Kapolda Jawa Timur itu, dari hasil survey EIU, predikat kota tidak aman itu terdapat empat indikator seperti keamanan digital, pelayanan kesehatan, infrastruktur dan kriminalitas. Jadi, yang masuk dalam tugas kepolisian dalam survey tersebut hanya satu.

“Sekali lagi penempatan sniper di Jakarta tidak ada urgensinya. Sebab, Jakarta masih aman. Masyarakat pun masih melakukan aktivitas pada malam hingga dini hari tanpa adanya kecemasan. Saya contohnya, pada jam tiga pagi ke Kota Tua kalau patroli, itu masih ramai orang makan bakso di sana,” tuturnya.

Unggung menegaskan, tidak aman menurut versi polisi yakni, pertama gangguan konvensional seperti kejahatan jalanan, pencurian, perjudian perampokan dan lain sebagainya. Kedua adalah transnasional seperti, Narkoba, dan ketiganya adalah kejahatan negara. Sementara ke-empat adalah kontijensi seperti masalah banjir dan bencana alam lainnya.

“Semuanya telah dilakukan langkah antisipasinya yang berpedoman pada Perkap 2001 tahun 2009 serta penggunaan kekuatan dalam tindakan kepolisian. Namun bila menang menmbahayakan anggota polri apalagi masyarakat, baru kita lumpuhkan dengan senjata,” imbuhnya.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Martinus Sitompul menambahkan, pihaknya juga tidak akan memberlakukan jam malam bagi masyarakat DKI Jakarta. Pasalnya, kepolisian masih mampu memberikan masyarakat rasa aman dan nyaman. “Jadi masyarakat tidak perlu khawatir dan resah dengan adanya survey dari EIU itu,” imbau mantan Kabid Humas Polda Jawa Barat itu. (aen/jpnn)