POJOKSATU.ID - Musim mudik selalu punya cerita.

Stasiun penuh, koper berseliweran, anak kecil digendong, dan penumpang sibuk mengejar jadwal keberangkatan.

Di tengah hiruk pikuk itu, ada sosok yang sering luput dari perhatian: porter kereta api.

Padahal, eh, justru merekalah yang sering jadi “penyelamat” saat barang bawaan terasa terlalu berat untuk dibawa sendiri.

Baca Juga: 950 Pemudik Berangkat Gratis dari Kota Bandung, Wagub Jabar Lepas 19 Bus Defend ID

Ya, porter stasiun bukan sekadar pekerja angkut barang.

Mereka adalah bagian dari pengalaman mudik yang membuat perjalanan jadi lebih ringan, secara harfiah maupun perasaan.

Coba perhatikan saat berada di stasiun besar.

Ketika penumpang terlihat kebingungan membawa koper besar atau kardus oleh-oleh, porter biasanya sigap mendekat dan menawarkan bantuan.

Baca Juga: Sumber Iran Konfirmasi Tewasnya Ali Larijani, PM Israel Netanyahu Juga Langsung Buka Suara

Dengan troli atau tenaga mereka, barang yang tadinya terasa mustahil dibawa sendirian langsung tertata rapi menuju gerbong kereta.

“Wah, lega banget,” mungkin itu yang sering terucap penumpang setelah dibantu.

Pekerjaan ini memang mengandalkan tenaga fisik.

Porter harus berjalan bolak-balik, naik turun peron, bahkan bekerja sejak pagi hingga malam mengikuti jadwal kereta.

Namun menariknya, banyak dari mereka tetap melayani dengan ramah dan senyum sederhana.

Saat musim mudik Lebaran atau libur panjang, jumlah penumpang meningkat drastis.

Barang bawaan pun ikut bertambah koper besar, tas oleh-oleh, hingga paket makanan dari kampung halaman.

Di sinilah peran porter menjadi sangat penting.

Baca Juga: Bantuan Rp10 Juta Cair untuk Korban Longsor Cibogo, Dedi Mulyadi Siapkan Relokasi Rumah

Mereka membantu:

  1. Mengangkut barang menuju peron

  2. Membantu lansia atau keluarga dengan anak kecil

  3. Memastikan barang sampai dekat kursi penumpang

Tanpa bantuan porter, banyak penumpang mungkin harus berjuang ekstra di tengah keramaian.

Hmm, kadang kita baru sadar pentingnya mereka saat benar-benar kewalahan.

Berbeda dengan layanan formal lain, penghasilan porter sebagian besar berasal dari jasa angkut yang diberikan penumpang.

Artinya, pendapatan mereka sangat bergantung pada kebaikan hati pengguna jasa.

Karena itu, memberi upah atau tip yang layak bukan hanya soal transaksi, tapi bentuk apresiasi atas tenaga dan waktu yang mereka keluarkan.

Tidak harus besar.

Sedikit rezeki yang dibagikan justru bisa sangat berarti bagi mereka.

Apalagi saat musim mudik, ketika kebutuhan keluarga di rumah juga meningkat.

Etika Menggunakan Jasa Porter

Supaya sama-sama nyaman, ada beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan penumpang:

  1. Tanyakan tarif dengan sopan di awal

  2. Sesuaikan bayaran dengan jumlah barang dan jarak

  3. Hargai kerja mereka dengan komunikasi yang baik

  4. Hindari menawar secara berlebihan

Hal kecil seperti ucapan terima kasih saja sering membuat mereka merasa dihargai.

Baca Juga: Auto Lolos CPNS Sekali Coba? Ini Strategi yang Dipakai Peserta Berpengalaman

Ya, sesederhana itu.

Mudik selalu identik dengan pulang kampung dan berkumpul bersama keluarga.

Tapi di balik perjalanan itu, ada banyak orang yang turut membantu kelancaran perjalanan kita.

Porter kereta api adalah salah satunya.

Mereka mungkin tidak duduk di kursi penumpang atau menikmati perjalanan panjang, tetapi tenaga mereka membantu ribuan orang sampai ke tujuan dengan lebih mudah.

Jadi, saat mudik nanti dan melihat porter menawarkan bantuan, tidak ada salahnya menerima uluran tangan mereka.

Selain membuat perjalanan lebih praktis, kita juga ikut berbagi rezeki dengan sesama.

Ah, bukankah mudik memang tentang pulang sekaligus berbagi?***