POJOKSATU.ID - Arus globalisasi yang semakin kuat membuat Indonesia berada dalam pusaran perdagangan internasional.
Letak geografis di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik menjadikan Indonesia sejak lama berinteraksi dengan pedagang India, China, Arab, hingga Eropa.
Interaksi tersebut tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi, tetapi juga pada penggunaan bahasa dalam aktivitas perdagangan.
Bahasa Inggris menjadi lingua franca dalam perdagangan internasional.
Baca Juga: Tanpa SKTM, Ini 20 Beasiswa Paling Diburu 2026, Ada LPDP, Djarum hingga CIMB ASEAN Scholarship
Tak heran jika berbagai istilah asing kemudian terserap ke dalam Bahasa Indonesia, terutama dalam bidang ekonomi dan pemasaran.
Fenomena ini terlihat jelas dalam iklan dan poster promosi produk yang beredar di masyarakat.
Campur Kode dan Alih Kode dalam Iklan
Dalam dunia linguistik, penggunaan dua bahasa dalam satu tuturan dikenal sebagai campur kode dan alih kode.
Campur kode terjadi ketika penutur menyisipkan unsur bahasa lain dalam satu kalimat.
Baca Juga: Kapal Induk Gerald Ford yang Menuju Timur Tengah, Panjangnya Hampir 3 Kali Lapangan Sepakbola
Sementara alih kode terjadi ketika penutur berpindah dari satu bahasa ke bahasa lain dalam konteks tertentu.
Contoh sederhana dapat ditemukan pada poster produk makanan ringan yang mencantumkan kata “original”.
Dalam Bahasa Indonesia, kata tersebut sebenarnya telah diserap menjadi “orisinal”.
Namun, banyak produsen tetap menggunakan bentuk bahasa Inggris karena dianggap lebih menarik dan modern.
Makna “orisinal” sendiri merujuk pada rasa asli tanpa tambahan varian tertentu.
Namun, penggunaan kata “original” dalam poster justru menunjukkan kecenderungan campur kode yang tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia baku.
Contoh lain terlihat pada penggunaan kata “creamy” dalam promosi makanan berbahan susu atau krim. Kata ini sering dipakai untuk menggambarkan tekstur lembut dan kaya rasa.
Baca Juga: DKPP Kota Bandung Gelar Expo Bangsawan, Vaksin Gratis dan Mobil Klinik Keliling Diluncurkan
Selain itu, slogan seperti “your favorite cookie snack” yang berarti “camilan kue favorit Anda” menunjukkan praktik alih kode secara langsung.
Mengapa Bahasa Asing Lebih Dipilih?
Fenomena ini bukan tanpa alasan.
Dalam strategi pemasaran, bahasa yang digunakan harus sesuai dengan karakter target pasar.
Segmentasi anak muda, misalnya, cenderung akrab dengan istilah bahasa Inggris yang dianggap lebih kekinian dan tidak kaku.
Baca Juga: Militer AS Siapkan Opsi Serangan Besar-besaran ke Iran, Kirim Tambahan Kapal Induk ke Timur Tengah
Selain itu, penggunaan bahasa asing dinilai mampu meningkatkan citra produk agar terlihat modern dan berkelas.
Tren global branding juga mendorong pelaku usaha untuk menggunakan istilah yang memiliki daya jual lebih tinggi di pasar.
Namun di sisi lain, praktik ini berpotensi menggeser penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Apalagi jika penggunaan istilah asing tersebut sebenarnya telah memiliki padanan resmi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
Faktor Minimnya Penyuntingan Bahasa
Kesalahan berbahasa dalam pemasaran juga dipengaruhi oleh latar belakang pembuat materi promosi.
Banyak pelaku pemasaran berasal dari bidang ekonomi atau bisnis, bukan dari disiplin ilmu bahasa.
Akibatnya, aspek kebahasaan kerap terabaikan.
Iklan dan poster lebih fokus pada desain visual dan strategi penjualan dibandingkan ketepatan tata bahasa.
Padahal, bahasa merupakan identitas sekaligus alat komunikasi utama dalam menyampaikan pesan produk.
Baca Juga: Pertamina Regional JBB Tindak Lanjut Keluhan BBM, SPBU Parungpanjang Disetop Sementara
Dampak terhadap Bahasa Nasional
Jika dibiarkan, dominasi bahasa asing dalam iklan dapat memunculkan anggapan bahwa Bahasa Indonesia kurang prestisius.
Padahal, bahasa nasional memiliki fungsi strategis sebagai identitas bangsa dan alat pemersatu.
Penggunaan istilah asing sebenarnya tidak sepenuhnya salah, terutama jika belum memiliki padanan yang tepat.
Namun, ketika padanan resmi telah tersedia, penggunaan bahasa Indonesia seharusnya lebih diutamakan.
Baca Juga: Pertamina Regional JBB Tindak Lanjut Keluhan BBM, SPBU Parungpanjang Disetop Sementara
Saran untuk Pelaku Usaha
Agar pemasaran tetap efektif tanpa mengabaikan kaidah bahasa, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan:
-
Mengutamakan penggunaan Bahasa Indonesia sesuai kaidah.
-
Menggunakan istilah asing hanya jika belum ada padanan resmi.
-
Melibatkan ahli bahasa atau editor sebelum materi promosi dipublikasikan.
-
Menyesuaikan gaya bahasa dengan target pasar tanpa mengorbankan ketepatan tata bahasa.
Bahasa bukan sekadar alat promosi, tetapi juga cerminan identitas dan profesionalitas suatu brand.
Dengan memperhatikan aspek kebahasaan, produk tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga kuat secara komunikasi.***

