POJOKSATU.ID - Eh, sadar nggak sih? Belakangan ini makin sering kita lihat orang dengan gangguan jiwa di jalanan.

Fenomena ini bikin banyak orang bertanya-tanya, sebenarnya kenapa sih jumlahnya terasa makin banyak di Indonesia?

Menurut data terbaru dari Kementerian Kesehatan, angka Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) memang menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.

Bahkan, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) mencatat prevalensi gangguan mental emosional seperti depresi dan kecemasan juga ikut naik. Waduh, ini bukan hal sepele.

Baca Juga: Bingung Pilih Kursi Kereta? Ini 8 Tipe Kursi Ekonomi KAI dan Perbedaannya

Salah satu penyebab utamanya ternyata berkaitan erat dengan tekanan hidup.

Mulai dari masalah ekonomi, kehilangan pekerjaan, hingga beban sosial yang makin berat.

Apalagi sejak pandemi, banyak orang mengalami perubahan hidup drastis.

Nah, kondisi ini bisa memicu stres berkepanjangan yang kalau nggak ditangani, bisa berkembang jadi gangguan mental serius.

Baca Juga: Koalisi Pemuda Peduli Transparansi Sebut Evaluasi Kinerja Agen 2025 Berujung Aktivitas Eksklusif

Selain itu, faktor lingkungan juga punya peran besar.

Misalnya, kurangnya dukungan keluarga, perundungan (bullying), hingga isolasi sosial.

Duh, kebayang kan gimana beratnya kalau seseorang harus menghadapi semuanya sendirian?

Yang menarik, masih banyak masyarakat yang menganggap gangguan jiwa itu hal tabu.

Akibatnya, banyak penderita yang nggak mendapatkan penanganan medis sejak awal.

Padahal, deteksi dini itu penting banget, lho! Kalau cepat ditangani, peluang sembuhnya jauh lebih besar.

Di sisi lain, akses layanan kesehatan mental di Indonesia juga belum merata.

Di beberapa daerah, fasilitas dan tenaga profesional masih terbatas.

Baca Juga: Tak Disangka! RI Sepakat Ambil LPG dan Minyak Mentah dari Rusia, Begini Penjelasan Bahlil

Ini bikin penanganan jadi nggak maksimal. Ya, akhirnya banyak kasus yang “terlewat” begitu saja.

Jadi, fenomena meningkatnya jumlah “orang gila” ini sebenarnya bukan karena hal mistis atau aneh-aneh, ya.

Lebih ke kombinasi faktor psikologis, sosial, dan ekonomi yang saling berkaitan.

Nah, mulai sekarang, yuk lebih peduli sama kesehatan mental.

Nggak cuma diri sendiri, tapi juga orang di sekitar kita. Karena, siapa pun bisa mengalami, dan semua orang berhak untuk pulih.***