POJOKSATU.ID - Sebuah video menampilkan seorang wanita berkerudung dengan pakaian ketat bergoyang di puncak Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat, beredar luas di media sosial.
Dalam rekaman berdurasi pendek itu, wanita tersebut tampak bergoyang dengan lincah di bibir tebing Gunung Rinjani, Lombok.
Ia bahkan nyaris terpeleset saat bergoyang di area curam yang menjadi salah satu titik pendakian paling berbahaya di Rinjani.
Baca Juga: Meteor Jatuh di Cirebon Sangat Jarang Muncul Disebabkan Ukurannya Besar, dari Tegal Brebes Terlihat
Aksi itu sontak menuai reaksi keras dari netizen, tapi sorotan publik bukan semata soal pakaian atau gaya menarinya, melainkan persoalan etika ketika seseorang berada di tempat yang dianggap sakral oleh masyarakat setempat.
Gunung Rinjani memang bukan milik siapa pun. Tetapi bagi masyarakat adat Sasak, gunung yang menjulang setinggi 3.726 mdpl itu bukan sekadar bentang alam, melainkan ruang spiritual.
Dalam pandangan adat Sasak, Rinjani adalah rumah kosmos, tempat suci di mana manusia, alam, dan roh leluhur hidup berdampingan.
Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Ingatkan Publik: Waspada Hoaks Soal BBM, Cek Fakta Sebelum Panik!
Mereka meyakini puncaknya merupakan kediaman sosok agung bernama Dewi Anjani.
Dewi Anjani dikenal dalam legenda Lombok sebagai penguasa tak kasat mata yang menjaga keseimbangan alam.
Ia digambarkan sebagai pelindung, penuntun, dan simbol kesucian Gunung Rinjani.
Baca Juga: Andra Soni Hadiri Rakerda Demokrat Banten, Tegaskan Sinergi Pemerintah dan Partai untuk Rakyat
Karena keyakinan itu, masyarakat adat Sasak memperlakukan gunung dengan penuh penghormatan.
Bahkan untuk melangkah di lerengnya pun, mereka selalu mengawali perjalanan dengan izin adat.
Bagi mereka, mendaki Rinjani bukan sekadar petualangan fisik untuk melihat keindahan alam, tapi merupakan perjalanan batin.
Setiap tahun, masyarakat Sasak juga menggelar upacara Ngasuh Gunung, sebuah ritual adat untuk memohon keseimbangan alam, kesuburan tanah, serta keselamatan bagi seluruh warga Lombok.
Dalam aturan adat, Rinjani tidak boleh dibangun bangunan sembarangan, dirusak, atau dijadikan tempat hiburan.
Termasuk merusak sumber air atau mengotori gunung karena dianggap sebagai pelanggaran terhadap leluhur.
Baca Juga: Budaya Kerja 5R Resmi Diterapkan di RSUD Jatisari Karawang
Namun perkembangan zaman mengubah wajah Rinjani yang dulu jadi tempat sakral menjadi destinasi wisata populer.
Tak semua pengunjung memahami bahwa mereka sedang berada di area yang dianggap sakral.
Aksi seperti yang dilakukan wanita berkerudung di puncak gunung menjadi contoh bagaimana batas etika sering kali dilanggar.
Baca Juga: Doa & Harapan di Usia 25: Gubernur Andra Soni Ajak Masyarakat Bersatu Wujudkan Banten Berkah
Tokoh adat setempat sebenarnya telah berulang kali mengingatkan para pendaki agar menghormati nilai spiritual Rinjani.
Sejumlah kasus serupa juga terjadi sebelumnya, mulai dari pendaki yang membuang sampah sembarangan, berbicara keras di tempat doa, hingga berkemah di titik yang diyakini sebagai lokasi sakral.
Pemerintah daerah dan masyarakat adat berupaya menyeimbangkan nilai spiritual Rinjani tanpa menghalangi manfaat ekonomi dari sektor pariwisata.
Baca Juga: Wali Kota Tangsel Minta Pembangunan PSEL Tepat Waktu
Upacara adat tetap dipertahankan, sementara jalur pendakian ditata ulang agar tidak melanggar kawasan sakral.
Bagi masyarakat Sasak, mereka tidak pernah mengklaim Rinjani sebagai milik pribadi atau kelompok.
Gunung itu mereka anggap milik alam, tempat semua makhluk berhak hadir, asalkan dengan rasa hormat.
Baca Juga: KDM Tegaskan Rereongan Poe Ibu Bukan Pungutan, tapi Gerakan Sukarela dan Gotong Royong Warga Jabar
Rinjani bukan sekadar gunung, ia merupakan pengingat bahwa manusia hanyalah tamu di rumah para leluhur.***

