Perusahaan Sedang Sakit, Ini Alasan Lorena Ikut Kelola PDJT

Kehadiran Bus The Service diyakini mampu memulihkan kondisi PDTJ.

POJOKBOGOR.com– PT Lorena selaku bagian dari Kerjasama Operasional (KSO) membeberkan alasannya ikut bagian mengelola Perusahaan Daerah Jasa Transportasi (PDJT) yang kini kondisinya sedang sakit.


Managing PT Lorena, Rianta Soerbakti mengatakan bahwa sebagai salah satu perusahaan otobus terkemuka yang telah berdiri sejak 1970, Lorena ingin ambil bagian dalam penataan transportasi kota hujan. Apalagi, ketika itu PDJT sedang dalam kondisi kurang sehat.

“Ketika ada tender Buy The Service (BTS) kami mengambil momen tersebut untuk membangkitkan PDJT,” ujar Rianta, Senin (13/12/2021).

Menurut dia, tender BTS sangat aman dan menguntungkan lantaran Biskita Transpakuan disubsidi per kilometer.


“Kalau disubsidi per penumpang tentu akan. Makanya kami ikut tender ini dengan membuat KSO bersana Kodjari dan PDJT. Kebetulan Lorena juga sebagai operator Trans Jakarta sejak 2008. Jadi kami sedikit lebih banyak pengalaman mengoperasikan BTS,” katanya.

Disinggung mengenai nilai investasi dalam Biskita, Rianta menyatakan bahwa Lorena hanya sebagai operator dan Kodjari adalah pihak yang menanamkan investasi. Dengan rincian Rp980 juta per satu unit bus.

“Per satu unit bus Rp980 juta, sedangkan jumlah bus ada 75. Tinggal dikalikan saja. Itu semua tertera di dokumen BTS,” ucapnya.

Mengenai jumlah subsidi, sambung Rianta, belum dapat dipastikan lantaran masih menunggu dari pemerintah pusat. Sebab, kata dia, prinsip BTS adalah bekerja terlebih dahulu baru dibayar melalui subsidi per kilometer.

“Belum tahu berapa subsidinya. Pogram ini (BTS) sudah berjalan tahun lalu, ini sebenarnya adalah perubahan dari program sebelumnya yang dimiliki Kementerian Perhubungan yakni bis hibah. Namun bus ini tidak dirasakan tidak tepat guna, karena banyak daerah yang tidak butuh atau tidak punya kemampuan untuk mengoperasikannya,” katanya.

Kendati mendapat subsidi, sambung Rianta, namun BTS bukanlah tanpa risiko lantaran KSO terancam denda apabila pelayanan tak memenuhi standar. “Misalnya, bis rusak, atau sopir tak memakai seragam,” imbuhnya.

Sementara itu, pimpinan Kodjari, Dewi Jani Tjandra mengatakan bahwa pihaknya akan segera melaunching Biskita Transpakuan Koridor 1 dan 2. Total, sebanyak 28 armada akan beroperasi, dengan rincian 15 unit di koridor 2 dan 14 unit pada koridor 1.

“Masing-masing koridor akan ada bis khusus untuk kaum difabel. Total untuk tahun ini 49 unit, dan angkot yang sudah dikonversi sebanyak 108 unit, yang berasal dari Kodjari,” ucapnya.

Dewi menjelaskan, angkot yang dikonversi merupakan milik Kodjari yang mereka beli pengusaha angkot.

“Setiap angkot yang dikonversi itu dibesituakan. Pembelian angkot juga tidak memaksa,” bebernya.

Terpisah, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor, Eko Prabowo mengatakan bahwa program konversi tiga angkot menjadi satu bus sudah ada blueprintnya sejak 2018, dan telah diperdakan.

“Blueprint sudah ada, dan perdanya jelas. Untuk fasilitas pendukung seperti Terminal Bubulak sempat mau direvitalisasi, tetapi anggatan terkena refocusing,” pungkasnya

(adi/pojokbogor)