Rizal Ramli : China Miliki Ambisi Teritorial, Harus Kita Lawan, Beda dengan Amerika

Rizal Ramli
Rizal Ramli

POJOKSATU.id, JAKARTA— Ekonom senior Rizal Ramli menyebut China memiliki ambisi territorial atau menguasai wilayah. Sikap China ini harus dilawan. Beda dengan Amerika yang tak memiliki ambisi itu.


“Berbeda dengan Amerika, China memiliki ambisi teritorial. Amerika walau ingin berpengaruh tapi tidak memiliki ambisi territorial,” cuit Rizal Ramli melalui akun Twitter, Minggu dinihari (8/11/2020).

Menurut Rizal Ramli, sikap China yang seperti ini harus dilawan, dan tidak bisa diterima rakyat Indonesia.

“Ambisi teritorial itu tidak bisa diterima oleh rakyat Indonesia, termasuk Rizal Ramli. Harus dilawan,” tegasnya.


Baca Juga :

Ladeni Nyanyian JK, Rizal Ramli Unggah JK Pernah Dipecat Gus Dur

Tak urung, unggahan ini menuai pro kontra diantara pengguna Twitter. Ada yang mendukung Rizal Ramli, dan sebagian tak setuju dengan pendapat Rizal Ramli ini.

Selain mengunggah cuitan, Rizal Ramli juga menulis ulasan mengenai kemenangan Joe Biden-Kamala Haris di Pilpres AS.

Berikut ulasan lengkap Rizal Ramli tersebut.

PEMILIHAN presiden Amerika Serikat tahun ini sangat kompetitif. Tadinya diperkirakan kemenangan Joe Biden dan Kamala Harris dari Partai Demokrat akan diikuti dengan kemenangan partai itu di Kongres dan Senat.

Namun di Senat, kedua partai memiliki suara yang berimbang. Sementara di Kongres suara Partai Demokrat bahkan berkurang.

Artinya, kemenangan Biden ini tidak punya implikasi yang terlalu dahsyat karena setiap kebijakan harus disetujui oleh Kongres dan Senat. Kemungkinan akan di-block di situ. Sehingga, walaupun Biden memiliki inisiatif macam-macam, akan lebih sulit untuk goal.

Pemilihan presiden AS kali ini dapat dilihat beberapa sisi. Pertama, sisi geopolitik dalam konteks kompetisi antara Amerika dan China.
Kedua, dapat dilihat dari apakah kemenangan itu akan berdampak terhadap Indonesia atau tidak.

Walaupun Trump kalah, kebijakan AS terhadap China tidak akan mengalami perubahan yang berarti.
Akhirnya, dengan kata lain, China tetap dianggap sebagai penghalang dari kemajuan Amerika, musuh ideologis dan juga kompetitor dalam politik, ekonomi, militer, dan sebagainya.

Di era Donald Trump, Amerika Serikat menggunakan cara yang lebih langsung dan terbuka dalam berhadapan dengan China, bahkan vulgar.

Tetapi itu tetap punya dampak sehingga Biden tidak bisa begitu saja menjadi sangat soft terhadap China. Terutama, China berbeda dengan Amerika soal ambisi teritorial. Amerika walau ingin berpengaruh tapi tidak memiliki ambisi territorial.

Ambisi teritorial China antara lain dapat dilihat di Laut China Selatan. Lalu, China memiliki penduduk yang banyak, sekitar 1,3 miliar jiwa, yang ingin dipekerjakan atau direlokasi ke negara-negara lain seperti Afrika, Asia, dan termasuk Indonesia.

Ambisi teritorial seperti itu tidak bisa diterima oleh rakyat Indonesia, termasuk Rizal Ramli.

Kita ingin bersahabat dan memang harus bersahabat dengan semua negara termasuk China, tetapi kalau ada yang tidak menghormati integritas wilayah Indonesia (territorial integrity), maka kita harus lawan.

Seperti saat kami menjadi Menko Kemaritiman, kami mengubah nama Laut China Selatan yang masuk wilayah Indonesia menjadi Laut Natuna Utara dan kami ganti petanya.

China resmi mengajukan protes kepada pemerintah Indonesia karena tidak setuju, dan itu sebetulnya kurang ajar sekali karena seharusnya tergantung kita, karena itu laut kita dan wilayah kita, maka mau kita kasih nama apapun, you have no right to interfere. Ini menunjukkan adanya ambisi teritorial.