Ini Strategi Baru Bareskrim Polri Usut Kasus Kepala Daerah

Bareskrim Polri
Bareskrim Polri
Gelar Perkara Budi Gunawan
Ilustrasi

POJOKSATU.ID, JAKARTA – Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri mengubah strategi pengusutan terhadap kepala daerah yang berstatus tersangka korupsi. Perubahan strategi ini bukan tanpa alasan. Polri tak ingin lembaganya dimanfaatkan lawan-lawan politik dari kepala daerah berstatus tersangka dalam pemilihan kepala daerah nanti.

Juru bicara Direktorat Tindak Pidana Korupsi Bareskrim Polri, Kombes Adi Deriyan mengatakan, dalam situasi seperti ini memang harus mencari waktu yang tepat untuk melakukan pemeriksaan.

“Jangan sampai Polri dijadikan alat politik dari lawannya. Lebih baik, supaya fair, tidak ada prasangka, maka penanganannya ditunda,” kata Adi di Mabes Polri, Rabu (23/9).

Dijelaskan Adi, penundaan yang dimaksud bukanlah menghentikan penyidikan kasus-kasus tersebut. Namun, strategi penyidikan Bareskrim Polri diubah.


Sedikitnya ada tiga kepala daerah berstatus tersangka korupsi yang kasusnya ditangani Bareskrim Polri. Yakni, Gubernur Jambi Junaidi Hamsyah, Bupati Kotabaru Irhami Ridjani, dan Bupati Bengkalis Herliyan Saleh.

Dijelaskan Adi, ketika biasanya pemeriksaan diarahkan ke kepala daerah maka kali ini dialihkan ke pemeriksaan saksi, saksi ahli, serta koordinasi dengan auditor.

Nah, setelah pilkada selesai nanti barulah penyidik Polri fokus pada sang kepala daerah yang sudah berstatus tersangka itu.

“Bukan berarti kasus berhenti, hanya strategi penanganan kasus yang dimaksimalkan dengan mengambil keterangan saksi, ahli dan perhitungan kerugian negara, sehingga masih berjalan,” papar Adi.

(boy/jpnn/yaz)