Kemerdekaan RI ke-70, Masih Banyak Kekerasan pada Anak

ilustrasi kekerasan
Ilustrasi
Ilustrasi
Ilustrasi

POJOKSATU.id, JAKARTA – Meski Indonesia sudah 70 tahun merdeka, situasi perlindungan anak di Tanah Air masih memprihatinkan.

Anak-anak Indonesia belum juga terlepas dari tindak kekerasan dan ek­ploitasi. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengim­bau anak-anak harus menjadi arus utama pembangunan se­bagaimana tujuan kemerdekaan Indonesia.

Komisioner KPAI, Susanto, mengatakan kata ‘kemerdekaan’ masih sulit dikaitkan dengan penyelenggaraan perlindungan anak.

“Berdasarkan catatan KPAI, beberapa hal yang masih kontraproduktif dengan spirit kemerdekaan diantaranya, masih banyak anak menjadi korban ek­sploitasi ekonomi seperti men­jadi pengemis, peminta-minta, menjadi korban jasa eksploitasi seksual karena dipaksa oleh orang dewasa,” katanya dalam siaran pers yang diterima Rakyat Merdeka, Minggu (16/8/2015).


Anak-anak tidak berdaya melawan, menghindar apalagi menentangeksploitasi terhadap dirinya.

“Masih banyak anak yang menjadi korbanpola pen­gasuhan yang salah. Tak sedikit anak yang dicubit, ditendang, dipukul, bahkan diciderai oleh orang terdekat, dengan alasan mendidik. Selain itu, tak sedikit anak, menjadi korban sistem sekolah yangbernuansa kekeras­an dan senioritas,” paparnya.

Susanto menambahkan, ada banyak anak menjadi korban tontonan pornografi, kekerasan, konflik, bahkan kejahatan seksu­al

“Kondisitontonan demikian, harus dihapus, untuk kepentinganterbaik anak,” katanya sebagaimana dilansir dari RMOL (Grup pojoksatu.id), Senin (17/8/2015).

Dia menyebutkan, tidak sedikit arena bermain justru taksesuai dengan tumbuh kembang anak.

“Mainan berkonten perang-perangan,berkelahi, pembunuhan, banyak ditemukan dimainkan oleh anak, padahalini tidak baik untuk perkembangan anak,” ujarnya.

Dia menekankan, secara prin­sip anak-anak memiliki hak untukdimerdekakan dari ek­sploitasi dan kekerasan.

“Semua pihak harusmemastikan bahwa anak tidak menjadi korban ke­bijakan yang salah, anaktidak menjadi korban perilaku yang salah, tidak menjadi korban bisnisyang hanya berorientasi profit,” katanya.

Susanto menegaskan, negaratidak boleh kalah dalam melind­ungi anak-anak yang merupakan masa depanbangsa.

“Dengan se­gala kekuatannya, momentum kemerdekaan ini harusmenjadi pemicu untuk memerdekakan anak sekaligus menjadikan anaksebagai arus utama pem­bangunan,” tandasnya.

Sebelumnya, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak,Yohana Yembise, menyatakan perlind­ungan anak adalah tanggung jawabsemua pihak.

“Seluruh anak Indonesia adalah anak kita semua sehinggamenjadi kewa­jiban seluruh komponen bangsa untuk memastikan tidak adadis­kriminasi dan kekerasan yang menimpa mereka,” katanya.

Menurut Yohana, cinta kasih, keramahan dan kepedulian terh­adap seluruh anakharus dimulai dari kehidupan keluarga yang harmonis dan sayangterhadap anak.

(pojoksatu/zul)