Jangan Salahkan Fenomena Pesta Bikini SMA

Pesta bikini SMA
Pesta bikini SMA
Pesta bikini SMA
Pesta bikini SMA

POJOKSATU.id, JAKARTA – Fenomena pesta bikini SMA usai ujian nasional (UN) sekolah hendaknya disikapi dengan arif dan harus dijadikan introspeksi oleh seluruh bangsa Indonesia. Hal tersebut dikatakan konsultan komunikasi politik, AM Putut Prabantoro, Minggu (26/4).

“Jangan pernah mengecam apa yang dilakukan oleh anak-anak sekolah kelas XII tersebut atau bahkan menjadikan fenomena itu sebagai bentuk tindak kejahatan,” ujar Putut Prabantoro.

Menurut Putut Prabantoro yang juga Ketua Pelaksana Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa), fenomena pesta bikini hendaknya dilihat sebagai komunikasi politik yang dilakukan oleh generasi yang dilahirkan serta dibesarkan di tengah kegalauan dan kegaduhan tatanan baru hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara pada tahun 1998.

Pesta bikini muncul akibat perubahan tatanan budaya, sosial dan politik yang tidak mapan, diperparah dengan revolusi teknologi komunikasi dan informasi (gadget). Hal itu ditandai dengan demam handphone yang mengubah total tata gaul dan tata komunikasi generasi sekarang.


“Generasi yang lahir sekitar 1998 boleh disebut sebagai generasi galau. Mereka tidak menemukan patron atau tokoh idola kecuali dalam dunia maya. Kehidupan di keluarga, sekolah, masyarakat dan pemerintah jauh dari teladan, sehingga mereka tumbuh tanpa terkontrol dan kendali. Apa yang kita lihat sekarang ini adalah pertumbuhan generasi baru dalam kegalauannya,” bebernya.

Hingga saat ini, katanya, Orde Reformasi belum memberikan wujud nyata dari suatu perubahan budaya, sosial dan politik yang lebih baik daripada orde sebelumnya. Bahkan generasi ini tumbuh dalam arus besar sebuah perubahan tantatan masyarakat yang diwarnai dengan persoalan korupsi, perebutan kekuasaan dan kejahatan terencana ataupun teroganisir.

“Reformasi adalah suatu langkah yang baik pada awal mulanya. Namun ketika reformasi tidak diselesaikan dengan baik, orde ini kemudian malah memunculkan berbagai permasalahan yang tidak terselesaikan pula. Generasi yang lahir tahun 1998 terjebak dalam keruwetan tersebut. Sementara itu, masyarakat, orang tua dan pemerintah tidak menyadari kekeliruan yang telah terjadi,” tukasnya.

(rmol/dem/one)