BNN Panen 1 Hektare Khat di Puncak, Jenis Narkotika “Teh Arab”

BNN temukan 1 hektar tanaman khat di Puncak
BNN temukan 1 hektar tanaman khat di Puncak
BNN temukan 1 hektar tanaman khat di Puncak
BNN temukan 1 hektar tanaman khat di Puncak

POJOKSATU.id, BOGOR – Masih ingat dengan tanaman khat (ghat)? Teh Arab ini tanaman yang masuk dalam kategori narkotika golongan A itu ternyata masih tumbuh subur di Puncak, Cisarua, Selasa (1/4).

Badan Narkotika Nasional (BNN) ’memanennya’ di lahan lebih dari satu hektare. BNN akhirnya mencabut 1.500 batang tanaman khat yang mereka temukan di dua tempat. Yakni, Vila Ever Green, Kampung Coklat, RT 03/04, Tugu Utara, Cisarua, dan Vila Okem, Desa Ciburial. Tanaman yang mengandung zat katinona tersebut kemudian dimusnahkan BNN dengan cara dibakar.

“Di dalam khat ada unsur katinona, sekarang sudah masuk dalam Undang-undang (UU) No 35 Tahun 2009 dan termasuk golongan satu. Jadinya tanaman ini dilarang,” ujar Direktur Narkotika BNN Sugiyo seperti dilansir dari Radar Bogor (Grup pojoksatu.id) hari ini, Rabu (2/4).

Secara fisik tanaman khat menyerupai tanaman perdu yang tingginya bisa mencapai tiga meter dan memiliki panjang daun 5-10 sentimeter dengan lebar 1-4 sentimeter.


Penemuan ini, sambung Sugiyo, hasil penyelidikan BNN, kepolisian, TNI dan Muspika Cisarua. “Sejauh ini baru ditemukan di Cisarua,” kata dia.

Menurut Sugiyo, ada berbagai cara yang digunakan dalam mengonsumsi tanaman khat. Salah satunya dengan cara diseduh seperti teh. Tindakan pemusnahan ini diharapkan BNN dapat membuat efek jera bagi mereka yang masih nekat menanam maupun mengon sumsi tanaman yang dikenal dengan sebutan teh Arab itu.

”Asalnya dari Afrika. Tanaman ini bisa juga langsung dikunyah namun tidak ditelan. Khat bisa meningkatkan daya tahan tubuh, tapi negatifnya, ini mengandung zat katinona yang berbahaya untuk fisik dan mental,” kata Sugiyo.

Menurut dia, sebenarnya penyebaran tanaman ini sudah cukup lama, namun baru dilarang sejak ada uji laboratorium BNN dua tahun lalu. Sejatinya, Catha edulis (khat) ditanam bebas di kawasan Cisarua, Bogor, sejak 1998.

Tanaman itu dibawa pelancong asal Yaman karena bernilai jual tinggi, warga setempat kemudian tertarik menanam tanaman ini. Narkoba jenis baru tersebut mencuat ke publik setelah investigasi Radar Bogor pada medio 2013, terkait kasus narkoba artis Raffi Ahmad terungkap.

Kabag Humas BNN Slamet Pribadi menjelaskan, daun khat memiliki dua varian yaitu khat ahmer (khat merah) dan khat ahdhor (khat hijau). Dari kedua jenis tersebut memiliki nilai jual yang berbeda, untuk khat hijau dihargai Rp250 ribu per kantong kresek kecil dan khat merah Rp350 ribu per kantong kresek kecil.

Terpisah, Ketua Kelompok Penggerak Pariwisata (Kompepar) Cisarua, Teguh Mulyana mengatakan, wisatawan Timur Tengah yang berkunjung ke kawasan Puncak masih sering mencari dan mengonsumsi khat. Sebab itu, tak salah jika tanaman tersebut masih tumbuh subur di Cisarua.

”Kalau tamu Timur Tengah tetap mengharapkan tanaman itu tetap ada,” tandasnya.

Sementara itu, pemilik tanaman khat yang notabene penjaga kebun kompleks Ever Green, Agus (59), mengaku tak sengaja menanam tanaman khat di dalam tong sampah satu tahun lalu. Selain menjadi tukang kebun dia juga bekerja sebagai tukang angkut sampah di kampungnya.

Awalnya, dia menemukan empat ikat tanaman di tong sampah, per ikat mencapai 40 pohon, dengan rata-rata tinggi hampir setengah meter.

“Saya nemu di tempat saya lihat bagus, ya, saya tanam. Saya tidak tahu kalau pohon itu dilarang,” akunya.

Khat sering dia manfaatkan untuk lalapan sebagai pengganti lauk, terkadang dipakai untuk sayur campuran mi instan.

”Kadang-kadang ada juga yang minta buat obat, kalau saya mah suruh ambil sendiri saja,” pungkasnya. (hur/ind/c/zul)