Mantan Rektor IPB Ini Layak Diabadikan Jadi Nama Jalan

Prof Andi Hakim Nasution
Prof Andi Hakim Nasution
Prof Andi Hakim Nasution

POJOKSATU.id, BOGOR – Seorang ilmuan besar Indonesia yang juga mantan Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Andi Hakim Nasution layak diabadikan menjadi nama jalan di Bogor. Pasalnya, pria kelahiran 30 Maret 1932 itu merupakan tokoh sekaligus pahlawan pendidikan di tanah air.

“Prof Andi Hakim Nasution itu guru besar yang luar biasa. Dia tak segan-segan mengajar mahasiswa di bawah pohon. Itu menjadi spirit bagi banyak orang. Karena itu, beliau layak diabadikan namanya menjadi nama jalan di Kota Bogor,” ujar CEO Radar Bogor Grup, Hazairin Sitepu, Senin (30/3/2015).

Mantan Ketua Dewan Pengawas TVRI itu mengatakan, Andi Hakim merupakan sosok pemikir futuristik. Rektor IPB dua periode (1978-1987) itu telah menelurkan banyak pemikiran di masanya yang menjadi kenyataan dan berlaku di zaman modern, seperti sekarang. Guru besar statistika dan genetika kuantitatif itu juga telah menerapkan berbagai metode yang hingga kini menjadi sangat fenomenal.

“Keilmuan dan sosoknya yang luas biasa akan semakin dikenal luas jika namanya diabadikan menjadi jalan,” imbuhnya.


Hazairin mencontohkan, beberapa tokoh Indonesia diabadikan menjadi nama jalan di luar negeri, sehingga nama dan ketokohannya selalu dikenang, seperti Mohammad Hatta yang diabadikan menjadi nama jalan di Harleem, Belanda. Nama jalan yang dikenal dengan sebutan Mohammed Hattastraat itu berada di kawasan perumahan Zuiderpolder dan dibangun pada tahun 1987.

Selanjutnya, nama Raden Ajeng Kartini menjadi nama jalan di Amsterdam, tepatnya di Utrech. Utrech juga menggunakan nama tokoh dari berbagai negara, namun ukuran jalan RA Kartini lebih besar dibandingkan dengan jalan lain.

“Syeh Yusuf juga dijadikan nama jalan di Afrika dan dinobatkan sebagai seorang pahlawan di sana. Padahal, dia adalah orang Indonesia,” imbuhnya.

Di Maroko, kata dia, presiden pertama RI, Ir Soekarno juga diabadikan sebagai nama jalan di ibukota Maroko, Rabat. Soekarno sangat dihargai di mata pemimpin Maroko karena perannya di Konferensi Asia Afrika.

Menurut Hazairin, jauh sebelum blusukan menjadi fenomenal di Indonesia, Prof Andi Hakim Nasution sudah lebih dulu melakukannya. Sosok multitalenta dan berintegritas itu blusukan ke asrama mahasiswa yang tak kunjung menyelesaikan studinya.

“Pemikirannya yang paling hebat adalah ketika memperkirakan bahwa lahan pertanian di Pulau Jawa akan tinggal 30 persen saja. Hal ini menimbulkan kekhawatirannya, hingga ia menggagas ide reklamasi Pulau Jawa untuk lahan pertanian dan bertani sayuran lebih banyak dengan hidroponik,” pungkasnya. (one)