Prostitusi Terselubung di Mustikajaya Dirazia

BARANG BUKTI: Sejumlah botol kosong dan bir hasil razia aparat di bilangan Mustikasari, Mustikajaya, kemarin.
BARANG BUKTI: Sejumlah botol kosong dan bir hasil razia aparat di bilangan Mustikasari, Mustikajaya, kemarin.
BARANG BUKTI: Sejumlah botol kosong dan bir hasil razia aparat di bilangan Mustikasari, Mustikajaya, kemarin.

POJOKSATU – Sejumlah warung remang-remang diduga tempat prostitusi terselubung di Mustikasari, Mustikajaya, dirazia aparat gabungan dari Satpol PP, Kepolisian, Koramil, serta pegawai kelurahan dan kecamatan setempat, Kamis (26/3) dinihari kemarin.

Sayangnya, informasi bakal ada razia tersebut diduga keburu bocor ke telinga para pemilik kafe dan anak buahnya. Alhasil, petugas hanya menyita lima botol miras, 50 botol kosong, dan 20 pelayan perempuan.

Razia warung remang-remang itu berlangsung di tiga RW, yaitu RW 04, RW 02, dan RW 05. Jumlah warung remang-remang di setiap RW itu bervariasi. Satu RW minimal memiliki satu lokasi yang biasa dijadikan tempat mangkal para pemburu miras dan perempuan malam. Bahkan, ada yang jumlahnya mencapai hingga lima titik. Umumnya, warung remang-remang itu sudah hadir sejak 35 tahun silam.

Tempat hiburan malam berkedok warung itu kerap menjadi sarang peredaran miras dan pangkalan para pemburu cinta sesaat. Di lokasi itu, biasanya para lelaki hidung belang menikmati miras sambil ditemani para pelayan perempuan yang umumnya berpakaian seksi nan menggoda. Perempuan-perempuan itu juga bersedia melayani kebutuhan bawah pusar para pelanggannya dengan sejumlah uang yang disepakati.


Kondisi ini sudah sering meresahkan warga sekitar. Masyarakat merasa risih. Apalagi, warung remang-remang itu berada tepat di tengah-tengah pemukiman penduduk. Tidak jarang, para pengelola warung remang-remang menyetel musik yang diputar kencang-kencang.

Entah ada kaitannya atau tidak dengan ulah kasi trantib Mustikajaya yang mengancam mengobrak abrik sebuah tempat usaha pada Selasa (24/3) dinihari, kemarin malam warung remang-remang di lokasi tersebut dirazia.

Sebanyak 76 petugas gabungan dari kecamatan, kelurahan, polsek, koramil, warga serta tokoh masyarakat merazia dan menutup paksa keberadaan tempat hiburan malam ilegal di wilayah itu.

Razia yang dipimpin Camat Mustikajaya Aty Rostaty dan Lurah Mustikasari Deden YS dimulai pukul 22.00 dan berakhir sekitar pukul 02.00 dini hari. ’’Kami mencegah gangguan kamtibmas di lingkungan sekitar terkait adanya tempat-tempat hiburan malam,” ujar Camat Mustikajaya, Aty Rostaty saat dihubungi Radar Bekasi.

Jelas Aty, Operasi ini dilakukan di wilayahnya dengan sasarannya potensi gangguan kamtibmas. “Seperti penyalahgunaan narkoba dan senjata tajam, atau potensi lain yang mengganggu keamanan serta tempat yang tidak memiliki izin,” sambungnya.

Sementara Kapolsek Bantargebang Kompol Tatang mengatakan, keberadaan warung remang-remang tersebut memang sudah sangat meresahkan warga, karena berada di lingkungan warga dan harus ditutup total.

“Harus ditutup total karena akan merusak lingkungan. Terlebih di tengah pemukiman warga, sangat bahaya kalau dibiarkan terus,” ucapnya.

Hal senada juga diungkapkan Lurah Mustikasari, Deden YS. Pihaknya berjanji akan memantau terus keadaan warung remang-remang dan melakukan patroli, untuk mencegah warung buka kembali.

“Akan kita pantau terus. Patroli akan dikerahkan. Kalau tidak dipantau pemilik warung akan kembali membuka warungnya,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Deden, bukan cuma identitas, pihaknya juga periksa apakah ada benda-benda berbahaya seperti narkoba atau senjata tajam maupun  senjata api.

Terpisah, razia yang dilakukan aparat didukung tokoh agama. Ketua MUI Kecamatan Mustikajaya, H. Faiduloh menyambut baik penutupan warung remang – remang di Kelurahan Mustikasari. Menurutnya keberadaan warung tersebut sudah melanggar norma-norma agama, terlebih berada di permukiman warga.

“Memang harus ada tindakan tegas dari pihak pemerintah. Dimana ada kemaksiatan harus diberantas. Jangan dibiarkan terus karena akan merusak generasi muda,” ucapnya.

H. Faiduloh juga berharap penutupan warem bisa diikuti wilayah lain yang masih terdapat warem.
“Semua pihak juga harus mengambil langkah yang sama seperti di Kelurahan Mustikajaya. Biar daerah disini bebas dari kemaksiatan,” tandasnya. (dat)