Farhat Abbas Jadi Cawabup Bogor?

Farhat Abbas
Farhat Abbas
Farhat Abbas
Farhat Abbas

POJOKSATU.id, BOGOR – Farhat Abbas menjadi cawabup kota Bogor. Hal ini sontak mengagetkan masyarakat Bogor. Pasalnya, mantan suami Nia Daniati ini memang dikenal tokoh yang cukup kontroversial.

Farhat Abbas diajukan sebagai calon wakil bupati (cawabup) oleh Dewan Pimpinan Pusat Partai Persatuan Pembangunan (PPP) kubu Djan Faridz.

“Ya, saya sudah terima suratnya. Tapi saya tegaskan di sini, partai koalisi yang nantinya akan memberikan dua nama ke saya,” jelas Bupati Bogor, Nurhayanti kepada Radar Bogor (Grup pojoksatu.id), Jumat (27/3).

Beberapa kali mantan suami Nia Daniati itu berusaha berkomunikasi dengan Nurhayanti, namun kerap batal saat hendak bertemu.


Surat penunjukan Farhat sebagai wabup utusan PPP kubu Djan Faridz juga dikabarkan sampai ke kursi partai koalisi. Hal ini dibenarkan Ketua DPC Gerindra Iwan Setiawan.

Hanya saja, Iwan mengaku heran dengan kehadiran Farhat yang terkesan tiba-tiba. “Farhat Abbas nggak jelas asal-usulnya,” singkat Iwan.

Penunjukan Farhat oleh kubu Djan Faridz memang terasa janggal, karena Kementerian Hukum dan HAM (Kemen­kumham) menegaskan bahwa kubu PPP pimpinan Romahur­ muziy adalah yang sah. Itu sesuai dengan hasil Muktamar tanggal 15-17 Oktober 2014.

Saat ini, Kemenkumham bersama dengan PPP kubu Romy sedang mengajukan banding ke PTTUN menyusul PTUN Jakarta membatalkan Surat Keputusan (SK) No. M.HH- 07.AH.11.01 Tahun 2014 tentang Pengesahan Perubahan Susunan Kepengurusan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang ditetapkan di Jakarta pada tanggal 28 Oktober 2014.

Dikonfirmasi, pengurus DPP PPP kubu Romahurmuziy, Ahmad Fahrial menyatakan, tidak ada SK selain dari DPP hasil Muktamar Surabaya. Sementara, DPP PPP pimpinan Romy sudah mengeluarkan SK yang berisi penunjukan Ade Munawaroh sebagai cawabup.

“Tidak ada SK lain, dan tidak akan ada,” singkatnya melalui BBM yang diterima Radar Bogor, Jumat (27/3).

Sementara itu, penunjukan Farhat Abbas sebagai F2 (sebutan untuk wakil bupati) mengundang tanya, cemoohan dan tawa sebagian kalangan.

“Haha..haha, ada-ada saja (PPP Faksi Djan Faridz, red). ’Akrobat’ mereka kali ini, semakin memberikan kesan kepada parpol lain dan publik, bahwa mereka tidak mempunyai orientasi politik yang mapan,” ujar pengamat politik Yusfitriadi kepada Radar Bogor.

Penunjukan Farhat Abbas, sambung Yusfitriadi, terkesan sangat pragmatis. Hukum terkait kisruh PPP masih berproses, se­hingga menurut dia siapapun yang direkomendasikan oleh De­wan Pimpinan Pusat (DPP) ti­dak akan berpengaruh ke tataran Dewan Pimpinan Cabang (DPC)di tingkat kabupaten.

“Karena yang kisruh di tingkat pusat, bukan di tingkat atau kabupaten,” ucapnya.

Seperti diketahui, sosok Farhat memang penuh kontroversi. Di dunia politik, dia tidak lebih merupakan caleg dan calon kepala daerah gagal. Pada Oktober 2013, dia sempat mencalonkan diri sebagai calon bupati dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah Kolaka, Sulawesi Tenggara, namun kalah.

Farhat juga mengampanyekan dirinya menjadi calon presiden dengan slogan ”Aku Indonesia”. Namun, tidak ada partai yang meminangnya.

Tak jera, Farhat juga tercatat sebagai calon anggota legislatif dalam Pemilu 2014 mewakili daerah pemilihan DKI Jakarta III, namun tidak terpilih.

“Lihat saja track record politiknya yang buruk. Ditambah lagi dia (Farhat) tidak pernah bersentuhan langsung dengan masyarakat Bogor,” jelasnya.

Yusfitriadi menyebut, penunjukan Farhat Abbas bak dagelan politik yang diperankan oleh DPP PPP Faksi Djan Farid. “Benar-benar layak untuk ditertawakan,” katanya lagi.

Karenanya, dia berharap dialektika yang sudah panjang dilakukan oleh DPC PPP Kabupaten Bogor, harusnya terus berjalan pada track-nya. “Tidak boleh terpengaruh oleh dagelan politik yang sangat menggelikan ini,” tegasnya. (ind/c/zul)