Daging Babi Beredar, Omzet Pengusaha Bakso Turun Drastis

Ilustrasi baso
Ilustrasi baso
Ilustrasi baso babi

POJOKSATU.id, SUKABUMI – Peredaran daging babi hutan (celeng) di Sukabumi menyebabkan omzet pengusaha bakso turun drastis. Pasalnya, warga tidak mau lagi mengkonsumi bakso. Para pengusaha bakso mengaku menjadi korban akibat peredaran bakso babi di Sukabumi.

“Ini kan ulah segelintir pedagang saja. Tapi dampaknya dirasakan ribuan pedagang bakso lainnya. Apalagi pedagang bakso yang modalnya kecil. Kasihan mereka,” ucap pengusaha bakso yang juga sesepuh Paguyuban Sinar Baja, Suparmin, kepada Radar Sukabumi (Grup pojoksatu.id), Kamis (26/3).

Suparmin yang mewakili anggota paguyuban para pedagang bakso dan jamu di Sukabumi ini meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Sukabumi melalui dinas berkompeten, agar ikut meluruskan sekaligus memulihkan kondisi saat ini.

“Artinya, pemerintah harus bisa meyakinkan kepada konsumen bahwa tak semua pedagang menjual bakso celeng. Misalnya, dengan memasang stiker di tiap kios, bahwa bakso yang dikonsumsi tidak mengandung celeng,” pintanya.


Meski diakuinya harga daging sapi relatif mahal, namun bukan berarti semua pedagang menjual bakso yang dioplos celeng.

“Kebetulan saya juga punya penggilingan daging untuk dibuat bakso. Karena harga daging sapi mahal, tak sedikit pedagang yang mencampurnya dengan daging ayam. Bukan dicampur dengan daging celeng,” tegasnya.

Suparmin pun mengungkapkan, omzet rata-rata pedagang yang tergabung di Paguyuban Sinar Baja ini turun hingga 50 persen pasca terungkapnya penjualan bakso celeng.

“Pelaku penjual bakso celeng sendiri tidak tergabung dalam paguyuban. Ini sangat merugikan bagi pedagang lainnya, karena kerugian mereka jika ditotal bisa mencapai ratusan juta rupiah,” sebut dia.

Seperti yang dialami oleh salah satu pedagang bakso di kawasan Jalan RH Didi Sukardi, Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi, Broto (60). Ia mengaku sejak pagi kemarin, warung baksonya sepi pengunjung. Parahnya lagi, tak satu pun konsumen yang datang untuk menyantap makanan yang terbilang lezat itu.

“Sebelumnya ramai, tapi setelah muncul pemberitaan soal daging celeng ini warung kami jadi sepi pembeli.
Buktinya jam segini yang biasanya saya sibuk meladeni konsumen, sekarang enggak ada,” kesal pemilik bakso yang akrab disapa Mas Broto itu.

Ia pun mengaku sangat geram dengan adanya oknum nakal yang ingin meraup keuntungan besar dengan modal kecil, lantaran bisa merusak citra pedagang bakso yang lain, terlebih Broto mengklaim sudah menjual bakso daging sapi asli ini selama 38 tahun.

“Dari dulu bakso saya tidak pernah dicampur-campur dengan daging yang lain apalagi babi, walaupun harga daging sekarang mahal tetap saya tetap berjualan jujur,” ucapnya.

Untuk mengantisipasi kenaikan harga daging, biasanya Broto menaikkan harga baksonya. Untuk satu porsinya ia menjual Rp15 ribu per mangkok. (radarrsukabumi/wdy/one)