Begal Bogor yang Ditembak Mati Itu Sudah Curi 50 Mobil

ilustrasi begal motol
ilustrasi begal motol
ilustrasi begal motol

POJOKSATU.id, BOGOR – Begal Bogor yang ditembak dihadapan ibunya oleh anggota Buser Polres Bogor Kota, Rabu (26/3) sore, merupakan target operasi polisi. Almarhum Eko Cahyono diduga sudah mencuri puluhan kendaraan. Warga Kampung Moyan, RT  01/04, Desa Bt Jaya, Kecamatan Rancabungur, yang tewas di belakang rumahnya itu, berkomplot dengan Sodikin alias Ikin yang sudah lebih dulu dipenjara. Dalam menjalankan aksinya, ia dikenal sebagai begal motor sadis.

“Tersangka sudah pernah ditangkap dan ditembak petugas Buser Polres Bogor Kota. Tersangka bersama Ikin diketahui
sudah mencuri kendaraan roda dua sebanyak 24 unit dan roda empat 50 unit,” terang Kasat Reskrim Polres Bogor Kota Ajun Komisaris Auliya.

Senada yang diungkapkan Kapolsek Bogor Tengah, Kompol Christian Budiono. Anak buahnya terpaksa menembak  Eko Cahyono alias Duda (25) karena melawan saat akan ditangkap. “Anggota kami manggil. Tapi, pencuri motor di  Pasar Anyar itu malah lari. Eko sempat melawan dengan mencabut pisau sangkur. Anggota (polisi) pun mengeluarkan  tembakan peringatan, tapi pelaku tetap lari,” kata Christian kepada para pewarta, kemarin.

Menurut Christian, Tim Buser yang ditugaskan sudah berada sejak pukul 15:00 WIB di kediaman Eko. Mereka bersiaga menunggu Eko yang bekerja sebagai sekuriti di Sentul tiba di rumah. Begitu datang, polisi langsung menyergap. Namun, Eko yang mengetahui kedatangan polisi langsung melarikan diri.


“Karena kabur maka nya diberi tembakan peringatan.  Namun, posisi tempat pelarian Eko miring, sehingga peluru meleset kena pantat,” bebernya.

Eko yang terkena timah panas petugas, kemudian jatuh tersungkur. Keempat anggota polsek langsung membawa Eko
ke Rumah Sakit Atang Sanjaya untuk mendapat penanganan medis. Namun di perjalanan, Eko mengembuskan napas terakhir karena kehabisan darah.

“Pelaku ini sudah terbukti mencuri di Pasar Anyar sekitar Januari lalu. Dari tangan pelaku, kami mengamankan satu kunci letter T, satu buah paket ganja kecil, uang senilai Rp200 ribu, sebilah pisau, dan satu unit handphone,” papar Christian.

Sedangkan tersangka lainnya, Sodikin, kini mendekam di tahanan Polres Bogor Kota. Sementara itu, kemarin sore, Eko dimakamkan usai menjalani autopsi di RSUD Ciawi. Hingga kini keluarga belum bisa menerima kematian Eko. Bagi mereka, penembakan yang dilakukan tetap melanggar hak asasi manusia (HAM). Untuk mendapatkan keadilan, pihak keluarga berencana melaporkan pelaku penembakan ke Propam dan Komnas HAM.

“Kami akan menuntut polisi yang sudah menghilangkan nyawa Eko. Saya hanya meminta keadilan. Eko itu manusia, bukan binatang. Seharusnya dia bisa diperlakukan dengan layak. Apalagi Indonesia sebagai negara hukum, tentu harus dapat memberikan keadilan seadil-adilnya,” ujar paman Eko, E Sukarna.

Kata dia, polisi adalah penegak hukum. Namun, bukan berarti kebal hukum. Saat melakukan penangkapan tidak sesuai prosedur. “Harusnya mereka terlebih dahulu berkoordinasi dengan RT dan RW setempat. Petugas jangan langsung main dobrak rumah. Setelah meninggal pun, petugas memperlakukan korban dengan tidak manusiawi,” ujarnya.

“Saat itu tangan korban ditaruh ke belakang dan mulut ke bawah. Sehingga membuat saya marah. Saking jengkelnya, saya mengatakan keponakan saya itu bukan binatang. Dia itu manusia. Tetapi, petugas tetap memperlakukannya dengan tidak pantas,” kenang Sukarna.

Sementara itu, Direktur LBH Bogor Zentoni mengatakan, Polri harus memberikan sanksi tegas terhadap pelanggaran  yang sudah dilakukan anggotanya. Penembakan yang dilakukan polisi melanggar Peraturan Kepolisian No 8 Tahun  2009.

“Yaitu tentang penggunaan senjata api. LBH Bogor menganggap tindakan anggota Polsek Bogor Tengah dengan melepaskan tembakan, yang sudah menghilangkan nyawa orang lain, tidak sesuai dengan protap aparat kepolisian,”  terangnya.

Mengacu pada peraturan tersebut, sambung Zentoni, polisi dapat mengeluarkan senjata apabila sudah dalam keadaan terdesak. Dan, senjata itu digunakan untuk melumpuhkan, bukan untuk mematikan. Polisi berfungsi sebagai penegak hukum, pelindung dan pengayom.

“Di sini hal itu menjadi tidak terlihat. Seharusnya anggota kepolisian saat melaksanakan tugas itu dapat bertindak sesuai dengan maksud dan tugas utamanya,”’ tukasnya. (radar bogor/all/rp7/dhi/lya)