Pro-kontra fatwa MUI, Hukuman Mati Bagi Homoseksual

homoseksual
ilustrasi
homoseksual
ilustrasi

POJOKSATU.id, BOGOR – Pro-kontra fatwa MUI tentang hukuman mati bagi kaum homoseksual terus bergulir. Salah satunya dari mantan gay yang berdomisili di Bogor.

Sebut saja Dodi. Meskipun bukan lagi seorang gay, Dodi tetap menentang fatwa tersebut. Baginya, fatwa itu menghilangkan hak manusia atas kehidupan.

“Berlebihan. Selain itu percuma, mereka gak akan langsung takut gitu aja. Apalagi kalau homoseksual udah jadi penyakit, kebutuhan yang sulit dilepaskan, bukan dengan ditakut-takuti solusinya,” protes Dodi.

Psikolog Rumah Cinta Bogor, Retno Lelyani Dewi juga berpendapat serupa. Seseorang dengan status homoseksual akut takkan peduli dengan ajaran agama. Bagaimanapun, mereka akan mengedepankan kebutuhan afeksi atau kasih sayang, dan kebutuhan seksualnya.


“Mereka adalah manusia biasa. Butuh pendekatan dan pengobatan terapi untuk menyembuhkannya,” jelas Retno pada Radar Bogor (Grup pojoksatu.id), Rabu (25/3).

Homoseksual bisa terjadi karena faktor internal, eksternal, maupun interaksi kedua. Artinya, penyebabnya bisa dorongan kuat dari dalam individu yang tak biasa, bisa pula lingkungan luar yang mengondisikan dan menempatkannya untuk berdekatan dengan permasalahan homoseksual.

Jika sudah begitu, penyembuhannya bukan perkara mudah. Kepercayaan dari mereka sangat dibutuhkan untuk melakukan pendekatan atau pengobatan tersebut. Biasanya, psikiater akan melakukan terapi kognitif, mental, okupasi, hingga terapi rekreatif.

Dimulai dengan mengubah mindset, bahwa hubungan sejenis bukanlah kenikmatan apalagi tren. Kemudian diberikan alternatif kegiatan yang mampu menumbuhkan rasa kepercayaan diri dan harga diri, hingga dibantu dengan beragam kegiatan rekreatif yang melibatkan lawan jenis secara have fun.

Tak hanya itu, Retno menekankan, keluarga memiliki peran amat penting dalam mengontrol tingkah laku anggotanya. Ketika melihat ada yang tak beres, secepatnya dilakukan pendekatan dan diajak bicara. Bila perlu, segera dibawa pada ahlinya.

“Hidup itu hanya sekali. Jika kita dianugerahi perasaan cinta dan kasih sayang untuk lawan jenis, lantas kenapa mencari yang tidak-tidak? Enjoy your life with love and and joy with the right way,” tambahnya. (Fauziyyah/zul)