Elpiji 3 Kg Langka, Kayu di Bogor Jadi Primadona

kayu bakar
Ilustrasi.

 

POJOKSATU.id, BOGOR – Sulitnya mendapatkan gas 3 kilogram ternyata membawa berkah bagi para penjual kayu bakar di Desa Leuwinutug, Kecamatan Citeureup. Pasalnya, banyak warga yang membeli bahan bakar alternatif ini untuk kebutuhan sehari-hari.

Dalam sebulan, Daisimah (42), pedagang kayu bakar, mengaku bisa meraup keuntungan hingga Rp2,5 juta. “Alhamdulillah permintaan kayu bakar sekarang terus melonjak,” ujarnya kepada Radar Bogor, Selasa (24/3).

Sebelum adanya kelangkaan gas, Daisimah hanya dapat untung Rp1,5 juta per bulan. Kayu bakar ia banderol Rp1,5 juta sampai ke lokasi tujuan untuk setiap truknya. Biasanya, kayu bakar dalam jumlah besar itu dibeli para pengusaha laundry.


“Kayu bakar ini saya dapatkan dari Sentul dan Sukamakmur,” jelasnya.

Kata dia, ada juga warga yang datang ke tempatnya hanya membeli Rp15 hingga Rp20 ribu. Biasanya menggunakan gerobak atau mobil pikup.“Untuk rumah tangga, banyak juga warga beli per ikat Rp5 ribu,” terangnya.

Menurut Daisimah, tingginya konsumsi kayu bakar ini tak lepas dari kekhawatiran warga gunakan gas. Ditambah harganya kerap naik. “Ada juga yang takut gas meledak,” terangnya.

Dikonfirmasi terpisah, Sekretaris Desa Leuwinutug, Denni Lesmana mengatakan, warga beralih ke kayu bakar akibat melambungnya harga gas saat ini. “Ketika gas sudah tidak langka, banyak juga warga yang malah keasyikan pakai kayu bakar,” terangnya.

Jika harga gas 3 kilogram masih Rp15 ribu, kata dia, tidak terlalu memberatkan warga. Tapi, kini harganya sudah lebih dari Rp20 ribu. “Makanya kayu bakar jadi alternatif warga mengatasi sulitnya mendapatkan gas,” terangnya.
Selain menggunakan kayu bakar, ada juga warga yang kembali ke kompor minyak tanah.

“Warga yang menggunakan minyak tanah ini kebanyakan mereka yang takut gasnya meledak,” tandasnya.(radar bogor/azi/lya)