Gunung Slamet Mulai Batuk, Warga Waspada

Gunung Slamet
Gunung Slamet
Gunung Slamet
Gunung Slamet

POJOKSATU.id, PURWOKERTO – Gunung Slamet Mulai Batuk, masyarakat di lereng Gunung Slamet beberapa hari terakhir kerap dikagetkan dengan suara gemuruh yang diduga berasal dari aktivitas Gunung Slamet. Terkait hal itu, relawan di posko induk penanggulangan bencana juga melakukan survei dan pengecekan ke lokasi.

Namun bunyi gemuruh yang terdengar seperti dentuman gunung, hingga kini belum dapat dipastikan. Dugaan sementara, bunyi berasal dari suara petir yang terjadi akhir-akhir ini.

Relawan di Posko Induk Penanggulangan Bencana, Rudi Setiawan mengatakan, untuk mengantisipasi kepanikan masyarakat, pihaknya langsung mengecek ke lokasi. Namun tidak terjadi apa-apa hingga akhirnya tim relawan turun.

“Kita langsung naik dan memang tidak terjadi apa-apa, bahkan informasi dari posko Gambuhan tidak melaporkan adanya peningkatan aktivitas yang signifikan. Meski status aktivitas Gunung Slamet masih waspada,” katanya.


Terkait hal itu, dugaan sementara bunyi yang terdengar berasal dari suara gemuruh petir yang memang kerap terjadi. Mengingat saat ini masih terjadi puncak musim penghujan.

Rudi meminta masyarakat untuk tidak panik dan tetap beraktivitas. Terkait informasi aktivitas Gunung Slamet, hingga saat ini masih dipantau terus.

“Masyarakat jangan mudah percaya. Kalau mendengar langsung suara gemuruh, harus dipastikan dulu asal suara tersebut,” tegasnya.

Salah satu warga Sumbang, Ardi mengaku sempat mendengar suara seperti gemuruh dari arah Gunung Slamet pada beberapa hari terakhir.

“Terakhir terdengar sekitar pukul 20.00. Padahal cuaca sedang tidak hujan,” katanya.

Ardi mengatakan, daripada aktivitas Gunung Slamet, dia lebih mengkhawatirkan bencana lain seperti tanah longsor. Karena curah hujan masih cukup tinggi.

“Yang jelas warga memang panik karena bencana bisa datang kapan saja,” katanya.

Meski demikian, peningkatan aktivitas Gunung Slamet diakui BPBD Banyumas. Berdasarkan laporan rutin yang diterima dari posko Gambuhan, peningkatan aktivitas Gunung Slamet terjadi di wilayah puncak berupa gempa hembusan.

Frekuensi gempa hembusan sejuah ini masih bersifat fluktuatif, berkisar di angka 600-1.000 kali gempa hembusan per harinya. Meski demikian, belum ada peningkatan aktivitas Gunung Slamet. Warga masih diimbau untuk tidak melakukan kegiatan di radius 2 kilometer dari puncak.

“Statusnya masih waspada, walaupun terjadi peningkatan aktivitas di puncak Gunung Slamet,” ujar Kepala BPBD Banyumas Prasetyo Budi Widodo.

Dijelaskan, gempa tektonik memang sempat terjadi di wilayah Utara bagian Barat Gunung Slamet. Namun tidak akan mempengaruhi aktivitas gunung secara langsung, karena gempa tektonik lebih disebabkan pergeseran lempeng.

“Kalau gempa vulkanik, baru gempa yang disebabkan akibat aktivitas gunung yang masih aktif,” jelasnya. (bay/sus/jpnn/zul)