Bogor, Kota Aman Jejak Para Teroris

SERANGAN SIANG BOLONG: Pasukan khusus Tunisia mengamankan area di dekat Museum Bardo, Tunis, yang diserang dua orang bersenjata.
teror para teroris
Rekam jejak para teroris di kota Bogor

POJOKSATU.id, BOGOR – Bogor ternyata menjadi kota aman jejak para teroris. Kota yang sejukn ini ternyata telah menjadi lumbung persembunyian aman teroris di Indonesia. Tak terkecuali kelompok radikal pendatang baru, Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

Pengamat teroris Al Chaidar menyatakan, ada dua hal yang membuat teroris memilih Bogor sebagai tempat persembunyian yang nyaman. Yang pertama, karena letaknya yang tak jauh dari ibukota DKI Jakarta. Aksesnya pun beragam. Mulai dari tol, kereta rel listrik, hingga jalur arteri.

“Yang kedua adalah luasan wilayahnya,” jelasnya kepada Radar Bogor kemarin. Penangkapan AM, terduga antek ISIS pada Minggu (22/3) di Desa Wanaherang, Kecamatan Gunungputri, menurut Chaidar hanyalah awal pembuktian bahwa ISIS sedang membangun ‘kerajaannya’ di tanah air. Dan Bogor dipilih sebagai lokasi aman membangun pondasi kelompok radikal ini.

“Sejarah kita menunjukkan gerakan pembentukan negara Islam Indonesia sudah ada sejak dahulu. Para WNI yang bergabung ISIS sudah pasti akan kembali lagi untuk berjuang di Indonesia,” tambah Chaidar.


Penelusuran Radar Bogor, sejak tahun 2009 hingga 2015, sedikitnya enam teroris asal Bogor telah ditangkap. Mereka ditangkap di enam wilayah yang berbeda di Kabupaten Bogor. Saat ini, jumlah WNI yang diperkirakan telah bergabung dengan ISIS sebanyak 541 orang.

Namun Chaidar menilai jumlah anggota ISIS asal Indonesia tersebut belum pasti. Karena proses penyebaran paham masih berlangsung. ISIS juga dikenal pintar merekrut anggota di Indonesia. Mereka tahu banyak rakyat Indonesia di tingkat ekonomi rendah. Jadi, imbuhnya, mereka menjanjikan kesejahteraan bagi calon anggota.

Untuk wilayah Bogor, ISIS kemungkinan akan menggunakan jaringan teroris Abu Umar yang sampai detik ini masih aktif.“Setahu saya di Bogor masih ada sisa-sisa jaringan Abu Umar. Merekalah yang kemungkinan liar dan bergabung dengan ISIS,” bebernya.

Perlu diketahui, Abu Umar menjadi ‘Lord of War’ atau distributor senjata bagi kelompok -kelompok teroris di Indonesia. Dia juga berhasil menyelundupkan senjata untuk menyerang pos Brimob di Pulau Loki, Ambon 2005 yang mengakibatkan lima polisi tewas.

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebutkan, ada banyak organisasi masyarakat yang telah disusupi ISIS. Seperti Jamaah Ansharut Tauhid, Mujahidin Indonesia Timur, Mujahidin Indonesia Barat, Bima Group, NII Banten, Laskar Jundullah, Tauhid Wal Jihad dan Al Muhajirun.

Menurut Kepala BNPT Saud Usman Nasution, dalam diskusi “IS (ISIS) dan Upaya Deradikalisme” di Jakarta Minggu 22 Maret 2015, anggota organisasi-organisasi tersebut mudah dipengaruhi ISIS karena kesamaan ideologi.

Mereka juga memiliki dendam terhadap pemerintah dan ada faktor kesenjangan sosial-ekonomi. Apalagi dengan propaganda melalui media sosial ataupun video di Internet, proses rekrutmen terhadap mereka yang hendak dikirim ke Suriah menjadi lebih mudah.

Saud menyebutkan anggota yang dipengaruhi ISIS berasal dari Jamaah Ansharut Tauhid, organisasi yang dipimpin Abu Bakar Ba’asyir.  Penasihat Kepala Polri, Tito Karnavian, mengatakan pendukung ISIS lain berasal dari organisasi Tauhid Wal Jihad pimpinan Oman Abdurrahman, Mujahidin Indonesia Timur pimpinan Santoso, Mujahidin Indonesia Barat di bawah Bahrumsyah, Laskar Jundullah, dan NII Banten pimpinan Iwan Rois.

Sementara itu, pengacara Tim Pembela Muslim, Muhammad Mahendradatta, membantah bahwa Abu Bakar Ba’asyir ataupun Jamaah Ansharut mendukung ISIS. “Bukan ISIS-nya yang didukung, tapi perjuangannya melawan penguasa Syiah, Bashar Assad, yang didukung,” ujar dia Minggu 22 Maret 2015.

Muhaimin Yunus Hadi, mantan anggota Laskar Poso, keberatan jika wilayahnya dianggap sebagai lokasi pelatihan milisi ISIS dan teroris. Sedangkan juru bicara HTI, Ismail Yusanto, membantah ada barisan radikal di HTI yang mendukung ISIS. Adapun pengamat terorisme Nasir Abbas menyatakan Jundullah tak terlibat ISIS lantaran organisasi ini sudah tak ada.

Dikonfirmasi terpisah, Kapolres Bogor AKBP Sony Mulvanto menjelaskan, pihaknya sudah menyiagakan personil untuk menjaga kamtibmas di Kabupaten Bogor. Soal jaringan ISIS dan teroris lainnya, dia enggan berspekulasi penyebarannya. “Sudah kami siagakan,” singkatnya.(ind/tem/c/zul)