Prijanto Tersinggung, Ahok Kapok dan Minta Maaf

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahtja Purnama (Ahok)
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahtja Purnama (Ahok)
Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama
Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama

POJOKSATU.id, JAKARTA — Diprotes mantan Wakil Gubernur DKI, Prijatno, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, kapok menggunakan istilah “di-Prijanto-kan”. Ahok juga sudah meminta maaf langsung kepada mantan wakil Gubernur Fauzi Bowo tersebut.

Meski demikian, Basuki tidak menjelaskan makna dari kata tersebut. Ia mengaku bahwa istilah tersebut sudah digunakan oleh seorang oenulis dalam sebuah artikel di Kompasiana beberapa tahn lalu.

“Saya sudah minta maaf, kok, sama beliau (Prijanto). Beliau tersinggung. Istilah ‘di-Prijanto-kan’, ‘di-JK-kan’ itu sudah ada di Kompasiana. Tidak tahu kenapa beliau tersinggung saya menggunakan istilah yang sama,” kata Basuki di Balaikota, Jakarta, Senin (10/03).

“Saya tidak bermaksud merendahkan beliau. Tapi karena beliau keberatan, saya minta maaf. Saya juga tidak mau pakai istilah itu lagi,” katanya lagi menanggapi pernyataan Prijanto.


Ahok mengakui kalau permintaan maafnya disampaikan setelah Prijanto menyampaikan keberatan terhadap pernyataannya yang menyatakan akan “mem-Prijanto-kan” Wakil Gubernur yang tidak bisa selaras dengan dirinya.

“Saya ngomong di telepon, dia minta dicabut (beritanya). Saya bilang, mana bisa kita ngatur wartawan,” ujar Ahok.

Mantan Bupati Belitung Timur ini berjanji, ke depannya akan lebih berhati-hati dalam menggunakan istilah, terutama yang berhubungan dengan nama seseorang. “Belajar jangan lagi menyinggung. Walaupun itu istilah umum, tapi karena menyangkut orang, ya sudah. Kalau gitu, jangan dipinjam lagi istilahnya. Sensitif soalnya,” tukas Ahok.

Seperti diketahui, Prijanto menyayangkan tindakan Basuki yang menyebut istilah “di-Prijanto-kan”. Meski begitu, ia mengakui jika istilah tersebut sudah pernah muncul lama di laman Kompasiana. Artikel itu diunggah oleh Go Teng Shin pada Mei 2013 dengan judul; Ahok: Pendamping atau Pesaing Jokowi.

Istilah “di-Prijanto-kan”, menurut Go Teng Shin, berarti Prijanto yang diamankan dan tidak boleh berbicara oleh sang Gubernur kala itu, Fauzi Bowo.

“Ahok menyatakan seolah-olah saya ini tidak bekerja untuk rakyat. Berarti dia sudah menganggap dirinya seperti Fauzi Bowo dan wakilnya dari PDI-P harus ‘di-Prijanto-kan’, ini, kan, gila,” kata Prijanto.(udi/ril)