Miris, Ibu Ini Disiksa dan Dibuang Anak

Tetty hanya duduk termangu di sebuah poskamling lantaran ditelantarkan anak-anaknya. FOTO: MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu
Tetty hanya duduk termangu di sebuah poskamling lantaran ditelantarkan anak-anaknya. FOTO: MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu
Tetty hanya duduk termangu di sebuah poskamling lantaran ditelantarkan anak-anaknya. FOTO: MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu
Tetty hanya duduk termangu di sebuah poskamling lantaran ditelantarkan anak-anaknya. FOTO: MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu

POJOKSATU.id, MAGELANG – Sudah dua hari ini Tetty mengaku sedih bukan main. Kadang dia tiba-tiba menangis. Tidur pun tak nyenyak.

Dia tiba-tiba teringat dengan anak-anaknya. Keempat anaknya telah memperlakukannya secara tidak manusiawi. Membuangnya dan mentelantarkannya. Tak ada satupun anak-anaknya yang kini bisa diandalkannya. Semua pergi dan tak mempedulikannya.

Meski demikian, hati seorang ibu tak bisa bohong. Dia tetap rindu anak-anak yang dilahirkan dan dibesarkannya. “Meski kadang mereka suka kasar sama saya, main pukul main tendang,” katanya.

Bahkan, dia terpaksa tinggal sendiri di bekas poskamling Perumahan Griya Rejo Indah PGRI, Desa Japunan, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang. Dia seorang diri tinggal di bekas poskamling berukuran sekitar 3×3 meter, tanpa pintu, tanpa jendela, beratap seng yang sudah keropos. Jauh dari kata layak untuk dihuni seseorang.


Kalau siang panas, kalau malam sangat dingin. Atapnya bocor-bocor jadi kalau hujan dia hanya duduk di pojok dinding. “Tidak bisa ke mana-mana,” ujar Tetty menunjukkan tempat dia biasa duduk meringkuk di pojok ruang kecil itu.

Sementara untuk tidur, kata Tetty, dia biasa berbaring hanya beralaskan triplek yang dilapisi kardus untuk sekadar menghangatkan badan. Bantalnya, berupa gulungan-gulungan koran bekas. Ia enggan menggelar gulungan kasur yang ia bawa dari rumahnya dulu karena khawatir kotor. Alhasil, gulungan kasur kapuk itu hanya dipakai untuk melindungi tubuhnya dari terpaan angin saat malam hari.

Tetty lalu menunjukkan beberapa bungkusan plastik kresek yang ia letakkan di dekat tempat tidurnya. “Ini ada piring, gelas, botol buat ambil air dari masjid, dan beberapa pakaian, ya cuma itu kok,” kata Tetty.

Untuk mandi dan buang air besar Tetty biasanya pergi ke toilet di sebuah masjid tidak jauh dari poskamling itu. Menurut Tetty, warga di sekitarnya cukup baik kepadanya. Sesekali ada warga yang belas kasihan memberi makanan dan minuman ataupun uang sekedarnya.

Untuk makan Tetty hanya berharap belas kasihan warga. Kadang ada yang kasih uang kadang makanan. “Pernah dua hari tidak makan,” katanya.

Bagaimana anda bisa seperti saat ini? Tetty lantas tertunduk. Matanya mengeluarkan air.

Dengan terbata-bata, nenek bertubuh kurus itu kembali bercerita bahwa dulu dia hidup berada. Pernah bekerja menjadi agen teh merek terkenal dan memiliki dua buah kios kelontong di Kota Magelang. Namun keadaan berbalik setelah musibah kebakaran melanda kios miliknya. Ia bangkrut dan menjual rumahnya.

Namun nahas, uang hasil menjual rumah amblas ditipu seseorang. Ia kemudian tinggal bersama anak keduanya bernama Heru. Mereka mengontrak rumah di Perumahan Griya Rejo Indah. Tetapi karena tidak mampu membayar biaya kontrakan, ia diminta meninggalkan rumah. Sedangkan sang anak, Heru, justru meninggalkannya entah kemana. “Setelah itu saya diantar ke rumah anak bungsu saya di Karanggading (Kota Magelang) tetapi saya enggak betah, saya disia-sia, saya dipukuli,” ucap Tetty, tangisnya kembali pecah.

“Lalu saya kembali ke sini, berharap bisa bertemu anak laki-laki saya (Heru), saya cuma cocok dengan dia, saya ingin bertemu dia,” tutur Tetty lagi.

Tetty mengaku memiliki empat anak, tiga anak perempuan dan satu laki-laki. Tiga anak perempuannya masing-masing sudah mandiri tinggal di Kalimantan, Kabupaten Rembang dan Karanggading, Kota Magelang. Sedangkan sang suami, sudah meninggal sejak belasan tahun lalu.

Ketua RT 10 Perumahan Griya Rejo Indah PGRI, Aji Soetono, 64, mengungkapkan bahwa nenek Tetty sudah sejak tiga bulan lalu tinggal di bekas poskamling perumahan setempat. Pihaknya pernah beberapa kali menghubungi salah satu anaknya yang tinggal di Karanggading Kota Magelang.

Tetapi kata Aji, mereka hanya berjanji akan menjemput, namun sampai saat ini belum nenek Tetty belum juga dijemput anak kandungnya. “Kami kasihan dengan nenek Tetty, dia sudah sepuh (lansia), kami khawatir dia sakit, padahal musim hujan begini,” kata Aji.

Aji mengaku sudah mengadukan keberadaan Tetty kepada Kepolisian Sektor Mertoyudan hingga Dinas Tenaga Kerja, Sosial dan Transmigrasi (Disnakesostrans) Kabupaten Magelang, tetapi belum ada kejelasan hingga saat ini. (MUKHTAR LUTFI/*/ton/zul)