Takut Orang Tua Dibunuh, Siswi SMP Serahkan Keperawanan

Ilustrasi
Ilustrasi Pelecehan Seksual Anak, siswi smp serahkan keperawanan ke tetangga
Ilustrasi Pelecehan Seksual Anak

POJOKSATU.id, SAMPIT РTakut orang tuanya dibunuh, seorang siswi SMP di Kota Sampit terpaksa menyerahkan  keperawanannya kepada tetangganya sendiri, Rahmat (22). Siswi SMP itu diminta melayani nafsu bejat Rahmat agar orang tuanya tak dibunuh.

Kasus ini terungkap setelah orang tau korban curiga dengan perangai si buah hati yang akhir-akhir ini menunjukkan perubahan. Ibunya khawatir, dan berusaha mengorek keterangan dari sang buah hati, yang saat ini masih duduk di bangku kelas tiga SMP itu.

Akhirnya si anak pun mengaku. Ia menceritakan apa yang ia alami kepada ibunya setelah dirayu. Siswi yang masih duduk di bangku kelas tiga SMP tersebut

Siswa yang baru berusia 15 tahun dan tinggal di Jalan Muhran Ali Gang Mufakat, Kelurahan Baamang Tengah Kecamatan Baamang itu mengaku telah dicabuli pelaku sebanyak tiga kali. Terakhir ia dicabuli di salah satu rumah kosong di kompleks perumahan Metropolitan depan Hotel Wella Sampit.


“Saya menghubungi pelaku untuk datang ke rumah. Di rumah saya meminta pelaku bertangung jawab. Tapi pelaku malah mengancam serta menelepon kerabatnya di Polres Kotim,” ungkap Sa, ibu korban di unit PPA Polres Kotim, Kamis (19/3).

Mendengar tak ada itikad baik, orang tua dan warga pun langsung bertindak, melaporkan kejadian tersebut ke Polres Kotim, Sampit, Kalimantan Tengah.

“Selama ini anak saya diam-diam keluar rumah pada malam hari sewaktu kami tertidur. Ternyata karena anak saya dipaksa pelaku,” terangnya.

Kasatreskrim Polres Kotim AKP Andrie Samudra R Yudhaptie menjelaskan bahwa pelaku yang merupakan tetangganya itu memperdayai korban dengan mengancam. Modusnya, kedua orang tuanya akan dibunuh, apabila tidak mau melayaninya.

Andrie menjelaskan setiap hendak melakukan aksinya, pelaku terlebih dahulu SMS anaknya. Apabila keinginannya tidak dituruti, pelaku mengancam akan membunuh orang tua korban dan membakar rumah korban.

Setelah korban datang, kata Andrie, pelaku meminta korban melayani nafsu bejatnya. Akibat tindakannya, Rahmat dijerat pasal 81 ayat 2 UU RI No 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. “Pelaku sudah kita tahan dan sedang dimintai keterangannya,” tukasnya. (sli/jpnn/one)